Perselingkuhan Berulang: Kapan Batas Kesabaran dalam Rumah Tangga?

- Jumat, 09 Januari 2026 | 01:36 WIB
Perselingkuhan Berulang: Kapan Batas Kesabaran dalam Rumah Tangga?

Ini ironis sekali. Standarnya jadi timpang. Pelaku selingkuh bisa saja tetap diterima dalam pergaulan. Sementara korban yang memilih untuk berpisah malah dapat stigma, dibilang "gagal menjaga rumah tangga". Akibatnya, banyak keluarga yang hanya bertahan di atas kertas. Rapuh di dalam. Anak-anak tumbuh dalam atmosfer konflik, kepercayaan hancur, dan hubungan suami-istri berubah jadi rutinitas kosong tanpa makna.

Kalau dilihat dari kacamata sosiologi, rumah tangga tanpa kepercayaan seperti ini berbahaya. Ia berpotensi menciptakan siklus kekerasan emosional, ketidakstabilan, dan pola hubungan tidak sehat yang nantinya bisa diwariskan ke anak-cucu. Jadi, ini jelas bukan urusan privat semata. Ini sudah jadi persoalan sosial yang kompleks.

Lalu, Di Mana Batasnya?

Agama dan nilai sosial yang baik sebenarnya tidak pernah mengajarkan kesabaran buta. Kesabaran dalam Islam itu bukan pasrah menerima luka. Tapi sebuah ikhtiar dengan akal sehat untuk mencapai kebaikan. Kalau perselingkuhan terjadi lagi dan lagi, tanpa penyesalan tulus, memaksakan bertahan justru bisa bertentangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri: menciptakan ketenangan dan kasih sayang.

Masyarakat Indonesia yang religius ini seharusnya mulai bisa membedakan. Mana yang disebut menjaga institusi pernikahan, mana yang sekadar memaksa orang untuk tetap terperangkap dalam hubungan yang tidak aman dan menyakitkan. Menjaga martabat dan keselamatan batin manusia harusnya jadi prioritas, bukan sekadar memelihara citra sosial yang semu.

Pada akhirnya, rumah tangga tanpa amanah adalah alarm peringatan. Bagi agama, perselingkuhan berulang adalah pelanggaran serius yang merusak inti pernikahan. Bagi masyarakat, normalisasi dan pembiaraan terhadapnya hanya akan memperpanjang derita dan merusak kualitas keluarga-keluarga kita.

Mungkin sudah waktunya kita menggeser paradigma. Berhenti memuja "ketahanan" semu yang berdarah-darah. Dan mulai lebih menegakkan nilai keadilan, amanah, serta keselamatan emosional dalam setiap ikatan. Karena ukuran pernikahan yang hakiki bukanlah lamanya waktu, tetapi sejauh mana ia mampu menjaga martabat, kepercayaan, dan ketenteraman antar dua manusia yang pernah berjanji.


Halaman:

Komentar