Harganya pun ikut pasang surut. Dalam kondisi normal, satu kantong bunga tabur dijual sekitar Rp 80 ribu. Tapi saat permintaan melonjak, harganya bisa merangkak naik.
“Kalau lagi rame, bisa sampai Rp100 ribu. Itu juga ngikut harga dari sana,”
katanya, merujuk pada para pemasok di balik layar.
Selain bunga, ada satu lagi yang ia jual: air mawar. Bagi banyak pelanggan, ini jadi pelengkap wajib untuk ziarah.
“Biasanya sekalian beli. Buat nyiram makam biar lebih wangi,”
ucapnya.
Tentu, berjualan di pinggir jalan punya tantangannya sendiri. Cuaca adalah musuh utama. Terik matahari bikin bunga gampang layu, sementara hujan yang tiba-tiba bisa bikin repot.
“Kalau hujan ya buru-buru diberesin. Namanya juga jualan di luar,”
katanya sambil tertawa kecil, menerima resiko itu.
Di sekelilingnya, banyak kios bunga besar yang menjual aneka rangkaian mewah. Tapi Bambang tak merasa tersaingi. Baginya, pasar yang ia layani berbeda. Mereka yang cari bunga tabur biasanya mengutamakan kepraktisan.
“Pasarnya beda. Yang mau bunga tabur pasti nyari yang praktis,”
tegasnya.
Justru dalam kesederhanaan itu ia menemukan kekuatannya. Dengan fokus pada satu jenis dagangan, ia bisa menjaga kualitas dengan lebih baik.
“Yang penting bunganya masih bagus. Itu aja,”
pungkasnya, singkat dan padat.
Jadi, di tengah riuhnya Rawa Belong, Bambang tetap setia duduk di pinggir jalan. Tangannya terus meracik, di atas plastik tipis yang bersentuhan langsung dengan jalanan. Tanpa kemasan mewah atau lapak permanen, bunga-bunga itu tetap menemukan jalannya sendiri menuju tangan para pembeli yang datang dengan niat dan tujuan yang sama: untuk dikenang.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Desak Kejagung Perluas Penyidikan Pelanggaran di Kejari Karo
Timnas Futsal Indonesia Hajar Brunei 7-0 di Pembuka ASEAN Championship
Analis: Kekuatan Militer Iran yang Tak Terduga Buat Perang dengan AS-Israel Berkepanjangan
Kuasa Hukum Jusuf Kalla Laporkan Lima Pihak ke Bareskrim Terkait Tudingan Pendanaan Kasus Ijazah Jokowi