Jakarta – Gelombang ketidakpastian global kembali menghantam. Kali ini, sentimen negatif datang dari melonjaknya harga minyak dunia, sebuah efek domino dari konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran. Situasi ini, menurut para analis, membuat prospek sektor keuangan ke depan terlihat makin suram dan penuh tantangan.
Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Celios (Center of Economic and Law Studies), tak menampik hal itu. Tekanan terhadap sektor keuangan, ujarnya, bukan cuma soal jangka pendek. Dampaknya bisa berkepanjangan dan langsung menggerogoti kualitas kredit perbankan.
"Prospek sektor keuangan makin menantang ke depan, terutama dalam menjaga kualitas kredit dan volatilitas pasar," kata Bhima kepada Bisnis, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, "Krisis minyak karena konflik Timur Tengah dampaknya bukan temporer tapi persisten ke sektor keuangan."
Pemicu gejolak ini berawal dari ancaman terbuka Presiden AS Donald Trump lewat platform Truth Social. Dia mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak global tak segera dibuka. Padahal, sebelumnya selat itu terbuka untuk semua. Serangan AS-Israel memicu balasan Iran: mereka membatasi lalu lintas di selat tersebut.
Reaksi pasar pun cepat. Data TradingView pada Senin itu menunjukkan harga minyak mentah Brent naik 1,4% ke level US$110,60 per barel. Sementara minyak mentah WTI AS melonjak lebih tinggi, 1,8%, menjadi US$113,60 per barel.
Ancaman Trump itu langsung dibalas pejabat senior Iran. Mereka bersikukuh Selat Hormuz tak akan dibuka sebelum ada kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang. Di tengah kebuntuan ini, Oman mencoba jadi penengah dengan menggelar pertemuan darurat membahas pembukaan kembali selat itu.
Negara-negara OPEC pun ikut waswas. Mereka khawatir dengan potensi serangan terhadap fasilitas energi, meski sebelumnya sudah sepakat menambah produksi minyak mulai Mei nanti.
Bhima memperingatkan, lonjakan harga energi ini bisa jadi bumerang. Inflasi yang selama ini masih tertahan, berpeluang melesat signifikan. Dan itu masalah besar.
Artikel Terkait
Saksi Ungkap Alasan Bobby Kemnaker Minta Biaya Nonteknis untuk Sertifikat K3
Persik vs Persijap Berakhir Imbang, Gol Enrique Dibatalkan VAR dan Penalti Gagal
Presiden Prabowo Perintahkan Reklamasi Lahan KAI untuk Kepentingan Negara
Vivo T5 Pro Dikabarkan Segera Rilis di Indonesia, Bawa Spesifikasi Unggulan