Namun begitu, ironinya justru di sini. Karena air terlihat berlimpah, kita cenderung meremehkannya. "Samurah ayia", kata orang Minang. Yang murah dianggap tak berharga. Sampai akhirnya air menunjukkan wajah lain yang bengis: banjir bandang, tsunami, bencana hidrometeorologi yang menghancurkan segalanya. Di hadapan kekuatannya, kita kembali jadi makhluk yang cemas dan kecil.
Allah menyentil kecemasan itu dalam Q.S. Al-Wāqi‘ah (56): 68–70. Coba pikir, bagaimana jika air yang kita minum tiba-tiba jadi asin? Tak perlu menunggu kiamat. Cukup satu dua hari saja, seluruh bangunan peradaban modern bisa runtuh. Teknologi secanggih apa pun jadi tak ada artinya.
Faktanya, kita tak sanggup menciptakan setetes air pun. Q.S. Al-Mulk (67): 30 menggugat kesombongan kita dengan telak. Saat kemarau, kita cuma bisa memperdalam sumur atau memanjangkan pipa mengais-ngais sisa rahmat yang masih tersisa. Bahkan mengangkat air tanah sesenti pun kita tak mampu.
Pengalaman hujan buatan di era 80-an jadi pelajaran pahit. Awan bisa dibentuk, hujan bisa turun, tapi jatuhnya ke laut. Ikhtiar manusia mentok di sana, berhadapan dengan kehendak yang tak bisa diarahkan.
Dan pada akhirnya, gambaran Surga yang dijanjikan pun sarat dengan simbol air. "Sungai-sungai yang mengalir di bawahnya." Kebahagiaan sejati dilukiskan dengan karakter air: mengalir. Ini bukan cuma soal kenikmatan. Tapi penegasan lembut bahwa hidup yang hakiki ada dalam kepasrahan, dalam ketundukan total.
Di situlah, mungkin, makna sejati dari Al Islaam.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
Artikel Terkait
Warriors Menang Dramatis atas Mavericks, Moses Moody Cedera Serius di Overtime
Arus Balik Lebaran Picu Macet Parah 12 Jam di Jalur Arteri Cibadak, Sukabumi
Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar XXVI Hadirkan Gubernur dan Pengusaha Sherly Tjoanda
Gus Yaqut Kembali Ditahan KPK Usai Sempat Dapat Izin Tahanan Rumah