Air: Kecemasan Kita di Hadapan Sebuah Rahmat
Alen Y. Sinaro
Dewan Syuro Perhimpunan Al Irsyad
Bayangkan sebuah planet yang hampir seluruhnya basah. Itulah Bumi kita. Sekitar 80% permukaannya adalah air belum lagi uap dan embun yang melayang di udara, hadir begitu saja tanpa kita minta. Air sudah ada jauh sebelum manusia mulai berpikir, atau merasa dirinya berkuasa. Ia adalah prasyarat mutlak, bukan hasil ciptaan kita.
Peradaban, pada dasarnya, lahir dari air. Bukan dari ide-ide gemilang, tapi dari kebutuhan paling mendasar: bertahan hidup. Lihatlah kincir, irigasi, hingga mesin uap. Semua itu sebenarnya bentuk kegelisahan manusia. Sebuah upaya untuk mengelola ketergantungan yang tak terelakkan. Revolusi Industri? Itu bukan tanda kita bebas dari alam. Justru sebaliknya, itu pengakuan tak langsung bahwa kita tak bisa hidup tanpa air.
Maka wajar saja, ketika membayangkan kehidupan di luar Bumi, pertanyaan pertama selalu sama: "Ada air cair di sana nggak?" Pertanyaan itu lebih dari sekadar ilmiah. Ia bersifat eksistensial. Tanpa air, hidup mustahil. Titik.
Tubuh kita sendiri menjadi bukti yang paling nyata. Delapan puluh persen dari diri ini adalah air. Pada dasarnya, kita membawa miniatur planet di dalam diri. Kita bukan penguasa, tapi bagian yang rapuh dari keseluruhan itu. Kesadaran kita berdiri di atas cairan yang bisa saja menguap atau hilang suatu saat.
Q.S. Al-Anbiyā’ (21): 30 sudah menegaskannya: Kehidupan bermula dari air. Sains modern hanya mengulang klaim itu dengan bahasa yang lebih teknis. Tapi pengulangan itu tak mengurangi kekuatannya: hidup adalah anugerah, bukan prestasi. Dan anugerah itu bisa ditarik kapan saja.
Namun begitu, ironinya justru di sini. Karena air terlihat berlimpah, kita cenderung meremehkannya. "Samurah ayia", kata orang Minang. Yang murah dianggap tak berharga. Sampai akhirnya air menunjukkan wajah lain yang bengis: banjir bandang, tsunami, bencana hidrometeorologi yang menghancurkan segalanya. Di hadapan kekuatannya, kita kembali jadi makhluk yang cemas dan kecil.
Allah menyentil kecemasan itu dalam Q.S. Al-Wāqi‘ah (56): 68–70. Coba pikir, bagaimana jika air yang kita minum tiba-tiba jadi asin? Tak perlu menunggu kiamat. Cukup satu dua hari saja, seluruh bangunan peradaban modern bisa runtuh. Teknologi secanggih apa pun jadi tak ada artinya.
Faktanya, kita tak sanggup menciptakan setetes air pun. Q.S. Al-Mulk (67): 30 menggugat kesombongan kita dengan telak. Saat kemarau, kita cuma bisa memperdalam sumur atau memanjangkan pipa mengais-ngais sisa rahmat yang masih tersisa. Bahkan mengangkat air tanah sesenti pun kita tak mampu.
Pengalaman hujan buatan di era 80-an jadi pelajaran pahit. Awan bisa dibentuk, hujan bisa turun, tapi jatuhnya ke laut. Ikhtiar manusia mentok di sana, berhadapan dengan kehendak yang tak bisa diarahkan.
Dan pada akhirnya, gambaran Surga yang dijanjikan pun sarat dengan simbol air. "Sungai-sungai yang mengalir di bawahnya." Kebahagiaan sejati dilukiskan dengan karakter air: mengalir. Ini bukan cuma soal kenikmatan. Tapi penegasan lembut bahwa hidup yang hakiki ada dalam kepasrahan, dalam ketundukan total.
Di situlah, mungkin, makna sejati dari Al Islaam.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان
Artikel Terkait
KPK Tangkap Ketua dan Wakil Ketua PN Depok Terkait Suap Percepatan Eksekusi Lahan
Australia dan Indonesia Sepakati Traktat Keamanan Bersama Usai Pertemuan Albanese-Prabowo
BATC 2026: Indonesia Hadapi Jepang di Semifinal Putra dan Korea di Putri
Wali Kota Makassar Studi Kelola Stadion ke JIS, Proyek Stadion Untia Masuk Tahap Lelang