Air: Rahmat yang Menggugat Kesombongan Peradaban

- Rabu, 24 Desember 2025 | 04:50 WIB
Air: Rahmat yang Menggugat Kesombongan Peradaban

Air: Kecemasan Kita di Hadapan Sebuah Rahmat

Alen Y. Sinaro
Dewan Syuro Perhimpunan Al Irsyad

Bayangkan sebuah planet yang hampir seluruhnya basah. Itulah Bumi kita. Sekitar 80% permukaannya adalah air belum lagi uap dan embun yang melayang di udara, hadir begitu saja tanpa kita minta. Air sudah ada jauh sebelum manusia mulai berpikir, atau merasa dirinya berkuasa. Ia adalah prasyarat mutlak, bukan hasil ciptaan kita.

Peradaban, pada dasarnya, lahir dari air. Bukan dari ide-ide gemilang, tapi dari kebutuhan paling mendasar: bertahan hidup. Lihatlah kincir, irigasi, hingga mesin uap. Semua itu sebenarnya bentuk kegelisahan manusia. Sebuah upaya untuk mengelola ketergantungan yang tak terelakkan. Revolusi Industri? Itu bukan tanda kita bebas dari alam. Justru sebaliknya, itu pengakuan tak langsung bahwa kita tak bisa hidup tanpa air.

Maka wajar saja, ketika membayangkan kehidupan di luar Bumi, pertanyaan pertama selalu sama: "Ada air cair di sana nggak?" Pertanyaan itu lebih dari sekadar ilmiah. Ia bersifat eksistensial. Tanpa air, hidup mustahil. Titik.

Tubuh kita sendiri menjadi bukti yang paling nyata. Delapan puluh persen dari diri ini adalah air. Pada dasarnya, kita membawa miniatur planet di dalam diri. Kita bukan penguasa, tapi bagian yang rapuh dari keseluruhan itu. Kesadaran kita berdiri di atas cairan yang bisa saja menguap atau hilang suatu saat.

Q.S. Al-Anbiyā’ (21): 30 sudah menegaskannya: Kehidupan bermula dari air. Sains modern hanya mengulang klaim itu dengan bahasa yang lebih teknis. Tapi pengulangan itu tak mengurangi kekuatannya: hidup adalah anugerah, bukan prestasi. Dan anugerah itu bisa ditarik kapan saja.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar