Stadion Untia Makin Nyata, Wali Kota Belajar Kelola Stadion ke Jakarta
Wacana pembangunan Stadion Untia di Makassar kini benar-benar melaju. Pemerintah Kota di bawah Wali Kota Munafri Arifuddin tak cuma bicara, tapi sudah eksekusi di lapangan. Mereka baru saja merampungkan sertifikasi lahan seluas 23 hektare, sekaligus memulai proses lelang untuk Manajemen Konstruksi. Proyek ambisius ini jelas ingin jadi lebih dari sekadar lapangan sepak bola tapi fasilitas olahraga modern yang multifungsi dan berstandar nasional.
Nah, untuk mewujudkan hal itu, Appi sapaan akrab Munafri langsung terbang ke Jakarta. Tepatnya Rabu lalu, dia dan rombongan melakukan studi banding ke Jakarta International Stadium (JIS). Tujuannya sederhana tapi penting: menyerap ilmu langsung soal bagaimana mengelola stadion kelas internasional, mulai dari konstruksi, operasional, hingga strategi agar stadion tetap “hidup” dan produktif.
“Kami datang ke JIS bukan sekadar melihat bangunan, tetapi mempelajari bagaimana stadion dikelola, dirawat, dan dimaksimalkan fungsinya. Stadion modern harus hidup dan produktif,” ujar Munafri.
Pernyataannya itu bukan basa-basi. Dalam kunjungan yang diterima langsung oleh Direktur Utama PT Jakpro, Iwan Takwin, itu, Appi menyoroti banyak hal. Bagaimana JIS didesain untuk jadi venue serba bisa tak cuma untuk sepak bola, tapi juga konser musik, pameran, atau event besar lainnya. Menurutnya, kalau stadion cuma dipakai beberapa hari dalam setahun, ya rugi. Harus ada aktivitas lain yang mengisi, sehingga nilai ekonomi dan sosialnya terus berdenyut.
“Kalau stadion hanya dipakai saat pertandingan, itu tidak cukup. Harus ada aktivitas lain agar stadion punya nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan,” tegasnya.
Hal teknis seperti perawatan rumput lapangan pun tak luput dari perhatiannya. Appi bilang, hal-hal semacam ini justru krusial. Soalnya, ini menyangkut kualitas pertandingan dan tentu saja, biaya operasional jangka panjang. “Kami pelajari detail alur perawatan, terutama rumput lapangan. Ini krusial karena berhubungan langsung dengan kualitas pertandingan dan biaya operasional jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, persiapan di Makassar sendiri sudah cukup matang. Aspek legal lahannya, yang kerap jadi masalah utama proyek pemerintah, sudah beres. Kepala Dinas Pertanahan Kota Makassar, Sri Sulsilawati, memastikan seluruh lahan seluas 23 hektare itu sudah bersertifikat dan bebas dari sengketa.
“Lahan yang siap dibangun kurang lebih 23 hektare dan sudah tersertifikasi. Ini untuk memastikan tidak ada masalah hukum di kemudian hari,” jelas Sri.
Dia juga mengungkapkan, proses sertifikasi sekarang jauh lebih ketat. Tak bisa lagi asal terbit. Harus ada dulu Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) dari Dinas Tata Ruang. Bahkan untuk lahan yang sempat dipinjam pakai pihak lain, sudah ada surat pernyataan yang mengukuhkannya sebagai aset Pemkot.
“Sekarang tidak bisa langsung sertifikat terbit. Harus dipastikan dulu kesesuaian ruangnya melalui PKKPR,” ujarnya.
Dengan landasan hukum yang kuat, lelang yang berjalan, dan ilmu yang didapat dari JIS, optimisme Pemkot Makassar makin besar. Stadion Untia tak lagi sekadar impian di atas kertas. Ia diproyeksikan jadi ikon baru bukan cuma untuk olahraga, tapi juga penggerak ekonomi, hiburan, dan pariwisata kota. Tinggal menunggu realisasinya di tanah Untia.
Artikel Terkait
BATC 2026: Indonesia Hadapi Jepang di Semifinal Putra dan Korea di Putri
Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna di Kebun Raya Bogor Setelah 12 Tahun
Keluarga Korban Tolak Damai, Tuntut Keadilan untuk Kucing yang Ditendang hingga Tewas di Blora
Polisi Ungkap Motif Perampokan Sadis di Boyolali: Utang Judi Online