Sutoyo Abadi: Presiden Akan Tamat
Kritik pedas kembali dilontarkan Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih, kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam tulisannya yang diterima redaksi Kamis lalu, 18 Desember 2025, ia menggambarkan sebuah ironi yang pahit. Harapan besar yang sempat dibangun, kata dia, kini berubah menjadi kekecewaan yang mendalam.
“Kebanggaan sebagai singa Asia tiba-tiba berubah menjadi kucing piaraan oligark,” tulis Sutoyo. Ia merasa janji-janji patriotik yang dulu digaungkan kini memudar, berganti dengan sikap yang dianggapnya penuh kecurigaan.
Ia pun menyoroti respons pemerintah terhadap bencana banjir bandang yang melanda. Menurutnya, ada kelambatan yang tak bisa dimaafkan. Bencana itu sendiri, ujarnya, belum juga ditetapkan sebagai Bencana Nasional. Hal ini dianggapnya menghambat bantuan dari luar negeri yang ingin turun tangan.
“Ketika semua sudah terbuka, sebab banjir karena kerusakan alam di hulu akibat perampokan dan deforestasi yang luar biasa sadis, tidak secepatnya mengganti para menterinya yang terlibat,” katanya dengan nada geram. Bahkan, ia menyebut pejabat yang diduga terkait malah diundang ke istana untuk membela diri.
Di sisi lain, rakyat yang terdampak terus menderita.
“Rakyat yang masih hidup dan kehilangan semuanya, menangis dengan mengibarkan bendera putih. Itu artinya mereka memohon negara segera hadir,” imbuhnya. “Tapi malah sibuk menebar isu penuh kecurigaan.”
Bagi Sutoyo, ini menunjukkan kegagalan kepemimpinan. Presiden, seharusnya, memikul tanggung jawab dan bertindak cepat mengatasi penderitaan rakyat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. “Presiden sibuk dengan imajinasinya yang tidak jelas arahnya,” tegasnya.
Ia mempertanyakan logika di balik sikap pemerintah. “Setan darimana, belajar dengan siapa dalam kondisi darurat bencana? Setiap empati dicurigai, setiap solidaritas dituduh agenda. Inilah wajah kekuasaan yang gagal membedakan antara empati dan konspirasi.”
Narasi yang dibangun terasa semakin getir. Sutoyo menggambarkan kondisi korban yang tragis, hingga jenazah yang membusuk tak terurus. Penderitaan itu, sayangnya, justru dijadikan alat politik.
“Kita yang menyaksikan sesak nafasnya malah diseret ke politik. Penderitaan dan kesedihan dipaksa masuk dalam citra dan pencitraan,” ujarnya.
Kritiknya mencapai puncak dengan menyitir pidato Presiden Prabowo sendiri. Dalam sebuah kesempatan, Prabowo pernah berjanji siap mati demi bangsa dan rakyat Indonesia.
“Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa dirinya siap mati demi bangsa dan rakyat Indonesia. Kepala Negara juga menyatakan tidak ragu untuk membela kepentingan masyarakat Indonesia.”
Nah, menurut Sutoyo, janji itulah yang kini harus ditagih. Ribuan rakyat tak berdosa telah menjadi korban banjir. “Sesuai janjinya, sudah tiba saatnya presiden tidak ragu harus mati bersama mereka,” tandasnya keras.
Dan dengan kalimat penutup yang dramatis, ia menyimpulkan: “Presiden akan tamat, dijemput oleh arwah yang menagih janjinya untuk mati bersama mereka.”
Artikel Terkait
Polda Riau Bongkar Perusakan Hutan Mangrove di Kepulauan Meranti, Sita Ribuan Karung Arang Bakau Ilegal
Arus Balik Penduduk: Makassar Alami Migrasi Keluar Tertinggi, Gowa dan Maros Jadi Tujuan Utama
Juru Parkir di Makassar Viral Minta Tarif Rp20.000, Polisi Amankan Pelaku
Akun Instagram Ahmad Dhani Diduga Diretas, Munculkan Promo Emas dan iPhone dengan Harga Tak Wajar