Utang Puasa Menumpuk? Waspadai Denda Fidyah yang Bisa Tembus Jutaan Rupiah

- Minggu, 01 Februari 2026 | 18:45 WIB
Utang Puasa Menumpuk? Waspadai Denda Fidyah yang Bisa Tembus Jutaan Rupiah

Ramadan sudah di depan mata. Bagi sebagian orang, kedatangannya disambut suka cita. Tapi, ada juga yang diselimuti rasa was-was. Bagaimana tidak? Masih ada utang puasa tahun lalu yang belum juga dilunasi.

Kalau cuma lupa satu dua hari, mungkin masih terasa ringan. Persoalan jadi lain kalau utang itu dibiarkan menumpuk bertahun-tahun. Ternyata, konsekuensinya nggak cuma sekadar ganti puasa di hari lain. Ada "denda" yang harus dibayar, namanya fidyah.

Lantas, siapa sih yang sebenarnya wajib membayar fidyah ini?

Pertama, tentu saja orang tua yang sudah renta dan fisiknya benar-benar tak kuat lagi untuk berpuasa. Kedua, mereka yang menderita sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya. Ibu hamil atau menyusui juga termasuk, khususnya jika puasa dikhawatirkan membahayakan diri atau bayinya.

Nah, yang sering luput dari perhatian adalah poin keempat: orang yang menunda-nunda ganti puasa (qadha) tanpa alasan yang dibenarkan agama, sampai melewati Ramadan berikutnya.

Menurut pandangan Mazhab Syafi'i seperti dikutip dari sejumlah sumber menunda qadha padahal mampu itu ada konsekuensinya. Utang puasanya tetap harus dibayar, plus membayar fidyah yang jumlahnya dikalikan dengan tahun keterlambatan. Jadi, bisa membengkak.

Simulasinya begini. Misal, kamu punya utang 10 hari puasa, dan sudah terlambat 3 tahun (artinya, melewati tiga kali Ramadan). Maka hitungan dendanya adalah: 10 hari x 3 tahun = 30 hari fidyah.

Kalau diuangkan pakai tarif nasional tahun 2025-2026, yaitu Rp 60.000 per hari, totalnya mencapai Rp 1.800.000. Lumayan, kan?

Soal tarif, angkanya bervariasi. Berdasarkan ketetapan BAZNAS, tarif disesuaikan dengan biaya hidup layak di tiap daerah. Untuk skala nasional atau wilayah Jabodetabek, tarifnya Rp 60.000 per hari. Di Jawa Timur, sekitar Rp 45.000. Sementara untuk beberapa wilayah lain, bisa sekitar Rp 40.000 per hari.

Opsi lainnya, kamu bisa bayar dengan beras sebanyak 0,75 kilogram per hari utang. Ini setara dengan memberi makan satu orang miskin untuk satu hari.

Nah, ini yang penting dicatat. Bagi kamu yang sebenarnya sehat dan mampu, jangan berpikir bisa "tebus dosa" cuma dengan bayar uang. Tidak. Kewajiban utamanya tetaplah mengqadha puasa yang ditinggalkan. Membayar fidyah di sini adalah tambahan akibat kelalaian menunda-nunda.

Kabar baiknya, pelaksanaan qadha ini cukup fleksibel. Kamu bisa melakukannya kapan saja sepanjang tahun, tidak harus berurutan, dan bisa dicicil sesuai kemampuan. Yang penting, niatkan dengan sungguh-sungguh.

Berikut lafaz niat puasa qadha:

"Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ."

Artinya, "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."

Jadi, sebelum Ramadan yang baru tiba, ada baiknya kita mengkalkulasi dan melunasi semua "utang" yang lama. Supaya ibadah kita nanti bisa lebih tenang dan khusyuk.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler