Rosan Roeslani, sang CEO Danantara, baru-baru ini buka suara. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang bersiap untuk ambil bagian sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini menyusul rencana demutualisasi bursa. Soal berapa persen saham yang akan diambil, Rosan mengaku masih dalam tahap penghitungan. "Masih kami pelajari," katanya.
Sebenarnya, apa sih demutualisasi itu? Intinya, ini adalah proses mengubah status BEI. Dari yang semula organisasi yang dimiliki oleh perusahaan sekuritas anggotanya, menjadi perusahaan terbuka yang kepemilikannya bisa lebih luas, termasuk oleh publik atau investor seperti Danantara.
Rosan menjelaskan lebih lanjut soal rencana investasi ini. Menurutnya, langkah semacam ini sudah biasa dilakukan oleh sovereign wealth fund (SWF) di berbagai negara.
Pandangan serupa disampaikan oleh Pandu Sjahrir, CIO Danantara. Ia menegaskan bahwa demutualisasi bukanlah hal baru. Bursa-bursa di Singapura, Malaysia, hingga India sudah lebih dulu melakukannya. Meski nanti kepemilikan berubah, kewenangan membuat aturan tetaplah di tangan regulator.
Pandu juga tak menampik bahwa demutualisasi punya dua sisi. Namun, ia melihat lebih banyak dampak positifnya. "Kalau dilihat, demutualisasi ini sudah terbukti banyak sekali nilai positifnya," akunya.
Artikel Terkait
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% untuk Tarik Investor Global
Edupreneurship: Senjata Ampuh Lulusan Pendidikan Hadapi Badai Krisis 2026
Jeffrey Hendrik Bersiap Pimpin BEI Sementara, Langsung Hadapi Ujian dengan MSCI
OJK Gencar Reformasi Pasar Modal, Free Float Naik Dua Kali Lipat