Rosan Roeslani, sang CEO Danantara, baru-baru ini buka suara. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang bersiap untuk ambil bagian sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini menyusul rencana demutualisasi bursa. Soal berapa persen saham yang akan diambil, Rosan mengaku masih dalam tahap penghitungan. "Masih kami pelajari," katanya.
Sebenarnya, apa sih demutualisasi itu? Intinya, ini adalah proses mengubah status BEI. Dari yang semula organisasi yang dimiliki oleh perusahaan sekuritas anggotanya, menjadi perusahaan terbuka yang kepemilikannya bisa lebih luas, termasuk oleh publik atau investor seperti Danantara.
Rosan menjelaskan lebih lanjut soal rencana investasi ini. Menurutnya, langkah semacam ini sudah biasa dilakukan oleh sovereign wealth fund (SWF) di berbagai negara.
"Mengenai demutualisasi, kita tentu akan pelajari dulu. Berapa persen yang kita inginkan? Kami punya kriteria investasi sendiri. Lagipula, hampir di semua bursa dunia, SWF-nya ikut serta," ujar Rosan dalam Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal di Main Hall BEI, Jakarta Selatan, Minggu (1/2).
"Range-nya bisa beragam. Ada yang 15 persen, 25, 30, bahkan lebih dari itu," tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Pandu Sjahrir, CIO Danantara. Ia menegaskan bahwa demutualisasi bukanlah hal baru. Bursa-bursa di Singapura, Malaysia, hingga India sudah lebih dulu melakukannya. Meski nanti kepemilikan berubah, kewenangan membuat aturan tetaplah di tangan regulator.
"Peraturan tetap dibuat oleh regulator. Di Singapura ada financial service authority, di sini ada OJK. Tugas pemegang saham nanti lebih fokus pada aspek komersial, untuk profit institusi tersebut," jelas Pandu.
Pandu juga tak menampik bahwa demutualisasi punya dua sisi. Namun, ia melihat lebih banyak dampak positifnya. "Kalau dilihat, demutualisasi ini sudah terbukti banyak sekali nilai positifnya," akunya.
Sudah Mulai Investasi Sejak Akhir Tahun Lalu
Di sisi lain, Pandu mengungkapkan sebuah perkembangan penting. Rupanya, Danantara bukan cuma berencana, tapi sudah mulai bergerak. Mereka telah aktif menjadi investor di BEI sejak Desember 2025 lalu.
"Kita akan menjadi active participant di pasar modal Indonesia, baik di bond market dan public equity market. Jadi bisa saya laporkan, Bu Kiki (Friderica), kita sudah dari akhir Desember lalu mulai berinvestasi," ungkap Pandu.
Namun begitu, cara investasinya tidak langsung. Danantara memilih untuk menyalurkan dananya melalui manajer-manajer investasi terpilih. Ini adalah bagian dari strategi mereka untuk enam bulan ke depan, sekaligus mendorong partisipasi pelaku pasar lain.
Pandu memberi gambaran tentang strategi tersebut. Mereka memberi arahan khusus kepada para manajer investasi itu.
"Memang tidak langsung. Kami ingin crowd in para pemain yang ada, dan jumlahnya signifikan. Arahan kami ke manajer investasi adalah: beli saham dengan good growth, fundamental kuat, dan likuiditas bagus. Itu penting. Pastikan juga perusahaannya punya arus kas yang sehat," tuturnya.
Jadi, selain bersiap masuk ke kepemilikan BEI, langkah konkret Danantara di pasar modal Indonesia sudah benar-benar dimulai.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020