Di lokasi bencana, Prabowo tampak memastikan bantuan negara sampai, termasuk urusan gizi anak-anak. Ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Terpadu (SPPT) hancur diterjang banjir, meninggalkan sekitar 1,1 juta anak yang perlu perhatian serius. Presiden memilih berada di tengah mereka.
Maka, wajar jika publik mempertanyakan empati dan kepekaan pejabat. Meski kebenaran video masih bisa diperdebatkan, jika memang itu benar Kepala BGN, citra yang muncul sungguh tidak bagus. Seolah ada birokrat yang abai, sementara rakyat sedang susah.
Kritik ini punya dasar. Prabowo sendiri sebelumnya sudah mengingatkan keras para menteri dan pejabatnya.
Ucapan itu masih terngiang. Dan kini, video golf itu seakan menjadi jawaban yang ironis. Bagi banyak orang, ini adalah bukti nyata bahwa masih ada pejabat yang tidak mendengar arahan atasan, atau mungkin lebih parah, tidak peduli dengan suasana duka yang melanda negeri.
Sampai detik ini, belum ada tanggapan resmi dari Badan Gizi Nasional maupun dari Dadan Hindayana sendiri. Semuanya masih diam. Publik hanya bisa menunggu klarifikasi, sambil berharap ini semua cuma kesalahpahaman belaka.
Artikel Terkait
Ironi di Balik Ucapan Terima Kasih: Dosen Sibuk Mengecek Tunjangan, Bukan Membangun Peradaban
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban
Jet Tempur AS Tembak Jatuh Drone Iran di Dekat Kapal Induk, Ketegangan Laut Arab Kembali Meningkat
Bahasa Isyarat: Ketika Diam Bicara dan Gerakan Menyair