Menurut penuturannya, material kayu itu tak cuma mengubur tempat tinggal. Areal kebun masyarakat, yang selama ini jadi tumpuan hidup, ikut tertutup rapat. Bayangkan saja, sumber penghasilan mereka mendadak berubah jadi tumpukan kayu tak karuan.
“Luas areal yang ditutupi kayu gelondongan tersebut hampir empat hektare,” tambah Sofyan.
Memang, Kecamatan Bandar Pusaka termasuk wilayah yang paling parah terdampak. Bencana ini menunjukkan betapa rentannya kawasan itu, bukan hanya terhadap air, tapi juga terhadap material hutan yang ikut menyertainya. Kehidupan warga di sana kini terpaksa berhenti sejenak, menunggu proses pemulihan yang pastinya tak akan singkat.
Artikel Terkait
Ironi di Balik Ucapan Terima Kasih: Dosen Sibuk Mengecek Tunjangan, Bukan Membangun Peradaban
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban
Jet Tempur AS Tembak Jatuh Drone Iran di Dekat Kapal Induk, Ketegangan Laut Arab Kembali Meningkat
Bahasa Isyarat: Ketika Diam Bicara dan Gerakan Menyair