Ada juga gelondongan kayu dan sosok manusia yang terlihat melayang. Itu adalah gambaran nyata tentang bencana yang dipicu kerusakan hutan, yang telah merenggut banyak nyawa. Untuk warna, ia memilih dominasi ungu dan biru tua. Warna-warna itu menciptakan kesan muram dan gelap, tapi ia menghindari hitam pekat. Mungkin agar masih tersisa sedikit ruang untuk harapan.
“Secara pribadi, mentalku pun serasa dihajar dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini,” aku Yoga.
“Visualisasinya aku gambarkan orang yang sedang capek, overthinking, lelah, dan berduka.”
Proses penciptaannya terbilang cepat. Hanya butuh sekitar 5 jam, lukisan itu pun selesai. Kini karyanya menghiasi dinding Youth Space di Nanga Pinoh, Melawi.
Ke depan, rencananya tak berhenti di situ. Yoga mengisyaratkan kemungkinan karya itu akan dikembangkan jadi merchandise, misalnya dicetak di kaos, atau bahkan dilelang. Tujuannya satu: mengumpulkan bantuan untuk korban terdampak.
“Ada kemungkinan akan dijadikan merchandise, dicetak di kaus atau mungkin lukisannya dilelang (menunggu diskusi lebih lanjut dengan kawan), mengingat donasi untuk daerah terdampak masih sangat dibutuhkan,” tukasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Kilas Balik 22 Maret: Dari Arca Buddha Zamrud hingga Letusan Gunung Redoubt
Dortmund Bangkit dari Ketertinggalan Dua Gol untuk Kalahkan Hamburg
AC Milan Tundukkan Torino 3-2 dalam Laga Sengit di San Siro
Tiga Anak di Jombang Terluka Parah Akibat Petasan Rakitan, Satu Harus Diamputasi