Mendikdasmen Resmikan Puluhan Sekolah di Aceh, Bangkit Pascabencana

- Senin, 02 Februari 2026 | 08:42 WIB
Mendikdasmen Resmikan Puluhan Sekolah di Aceh, Bangkit Pascabencana

Kabut pagi masih menyelimuti dataran tinggi Gayo ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tiba di SD Negeri 12 Bintang, Aceh Tengah. Kunjungannya hari Kamis (29/1) itu bukan sekadar seremonial. Ia hadir untuk meresmikan puluhan sekolah yang baru saja direvitalisasi, sebuah titik terang pascamusibah banjir bandang dan longsor yang sempat melumpuhkan aktivitas belajar.

“Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman,” tegas Mu’ti di hadapan para guru dan perwakilan warga.

Ia menegaskan, komitmen pemerintah tak cuma membangun ulang tembok yang runtuh. Lebih dari itu, kata dia, adalah memastikan layanan pendidikan bisa terus berjalan, bahkan di tengah situasi yang sulit. Revitalisasi ini adalah bagian dari upaya nasional yang ditargetkan tuntas bertahap pada 2026.

Di Aceh Tengah dan Bener Meriah saja, program tahun 2025 ini telah menyelesaikan 53 satuan pendidikan. Angkanya cukup signifikan: 36 sekolah di Aceh Tengah dan 17 di Bener Meriah kini sudah seratus persen rampung. Semuanya siap lagi untuk menampung murid-murid yang sempat belajar di ruang darurat.

Namun begitu, tantangannya belum sepenuhnya usai. Mendikdasmen sempat meninjau langsung kondisi beberapa sekolah yang masih terpuruk. Seperti SMP Negeri 22 di Takengon, misalnya. Bangunannya rusak berat dan berkali-kali diterjang longsor. “Sudah tidak memungkinkan untuk digunakan,” ujar Mu’ti tentang sekolah tersebut.

Solusinya adalah relokasi. Pemerintah pusat dan daerah sedang berkoordinasi memindahkan sekolah ke lokasi baru yang lebih aman. “Insyaallah, sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan pembangunan Unit Sekolah Baru pada tahun 2026,” janjinya.

Sementara untuk SD Negeri 12 Bintang yang bagian belakangnya terkena longsor, akan ada bantuan tambahan berupa ruang kelas baru.

Sehari sebelumnya, Rabu (28/1), semangat yang sama juga disebarkan Mu’ti ke Aceh Utara. Di SMA Negeri 1 Baktiya, ia meresmikan 23 satuan pendidikan lain yang juga jadi bagian dari program rehabilitasi. Standarnya jelas: keselamatan bangunan dan kecukupan untuk kebutuhan belajar mengajar.

Di balik angka-angka dan kebijakan itu, dampaknya ternyata sangat personal. Bagi Yusbida dari SLB Negeri Silih Nara, program ini seperti angin segar. Sekolahnya dulu kekurangan ruang kelas dan fasilitas pendukung.

“Saya berharap program ini terus berlanjut,” katanya. “Agar semakin banyak sekolah di daerah dapat lingkungan belajar yang layak.”

Harapan serupa diungkapkan Marhamah, Kepala SMAN 1 Timang Gajah di Bener Meriah. Ia masih ingat betul kondisi laboratorium IPA dan rumah ibadah di sekolahnya yang rusak dan tak bisa dipakai.

“Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Presiden dan Mendikdasmen,” ucap Marhamah, terdengar haru. “Perhatian dan dukungan pemerintah ini manfaatnya benar-benar kami rasakan.”

Memang, upaya pemerintah tak berhenti di fisik bangunan. Mu’ti juga mendorong modernisasi pembelajaran. Sekolah-sekolah yang sudah dapat Papan Interaktif Digital akan dibantu konektivitas internet, bahkan lewat satelit untuk atasi kendala di daerah pegunungan. Tak lupa, pemenuhan kebutuhan pendukung seperti ruang guru dan rumah dinas juga terus diupayakan, khususnya untuk daerah terpencil.

Revitalisasi satuan pendidikan ini, pada akhirnya, bukan cuma soal beton dan atap baru. Ia menghadirkan harapan baru. Menjamin bahwa di mana pun lokasinya, anak-anak tetap punya ruang yang aman dan layak untuk mengejar masa depan mereka.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler