Presiden Terbang ke Pakistan dan Rusia di Tengah Bencana, Apa Strategi Prabowo?

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 19:50 WIB
Presiden Terbang ke Pakistan dan Rusia di Tengah Bencana, Apa Strategi Prabowo?
Artikel

Ke Luar Negeri saat Bencana: Presiden Lakukan Kerja Sekaligus

Oleh: Erizal

Agustus lalu, suasana masih panas usai demo yang berakhir ricuh. Tapi Presiden Prabowo sudah terbang. Dia memenuhi undangan Pemerintah Tiongkok, meski cuma sehari, pulang-pergi. Situasi dalam negeri? Belum sepenuhnya reda. Namun, tampaknya bagi Presiden, urusan luar negeri tak bisa ditunda begitu saja.

Tak lama setelah itu, reshuffle kabinet digelar mendadak. Bahkan menteri penggantinya baru tahu akan dilantik beberapa jam sebelumnya. Polanya mulai terlihat: Presiden ini tak suka mengerjakan hal satu per satu. Beberapa pekerjaan digarap bersamaan.

Lalu bencana datang. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat porak-poranda. Di tengah situasi itu, Presiden kembali terbang. Kali ini ke Pakistan, untuk perayaan hari jadinya yang ke-75. Bukan cuma itu. Dari Pakistan, dia melanjutkan ke Rusia untuk bertemu Putin, membahas kerja sama yang sudah jalan. Baru dini hari tadi dia mendarat. Dan bukan di Jakarta, melainkan langsung di Medan.

Jadi klaim bahwa dia menyelesaikan pekerjaan secara bersamaan, bukan berurutan, sepertinya benar. Tiga pekerjaan sekaligus: tanggap bencana, diplomasi dengan Pakistan, dan pertemuan strategis dengan Rusia.

Nah, persoalannya, saat dia berangkat ke Pakistan, kondisi darurat di Sumatera belum usai. Fase tanggap darurat malah diperpanjang. Sumatera Barat mungkin agak mendingan, tapi Aceh dan Sumut masih parah. Sedihnya, Gubernur Aceh sampai tak bisa menahan air mata saat diwawancarai Najwa Shihab.

Melihat itu, mudah saja orang beranggapan Presiden meninggalkan rakyat yang sedang menderita. Tapi benarkah? Menurut penjelasan dari istana, sebelum berangkat, Presiden sudah membagi tugas ke anak buahnya. Dana operasional juga sudah digelontorkan untuk puluhan bupati dan tiga provinsi terdampak itu.

Jadi, dia tak pergi begitu saja meninggalkan kekacauan. Dia turun langsung dulu, bagi tugas, baru berangkat. Makanya begitu pulang, dia langsung mendarat di Medan. Rencananya, dia akan ke Aceh. Kalau nanti penanganan dinilai belum beres, mungkin reshuffle kabinet akan jadi langkah berikutnya mirip seperti setelah kerusuhan Agustus lalu.

Mustahil dia tega meninggalkan rakyatnya. Program MBG untuk perbaiki gizi anak saja dia jalankan. Apalagi untuk korban bencana. Intinya, bagi Prabowo, urusan dalam dan luar negeri itu sama pentingnya. Tak bisa dipisah-pisah.

Mahfud MD pernah bercerita soal data tambang yang menarik. Ekspor kita catat 10 juta ton, tapi data impor dari luar negeri menunjukkan 100 juta ton. Selisih sepuluh kali lipat.

"Bangsa kita dikibuli, dan ini sudah berlangsung lama," kata Mahfud MD.

Cerita itu jadi pelajaran. Untuk tahu kebobrokan di dalam, kadang kita harus lihat dari luar. Istilah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, 'musuh dalam selimut' itu jaringannya tak cuma lokal, tapi global. Banyak pergerakan di dalam negeri juga terhubung ke luar.

Makanya, memisahkan urusan dalam dan luar negeri secara kaku adalah kekeliruan. Itu yang coba dihindari Prabowo. Tapi, peringatan Rocky Gerung juga perlu didengar. Jangan sampai asyik menjalin hubungan luar negeri, urusan dalam negeri diserahkan pada orang yang tak kompeten.

Mungkin, usai bencana Sumatera ini, reshuffle besar-besaran memang saatnya dilakukan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar