Di tepian Sungai Peusangan yang keruh, seutas kabel baja tegang membentang dari satu sisi ke sisi lain. Itulah satu-satunya jalur penghubung yang tersisa bagi warga setempat. Jembatan Teupin Mane, yang biasanya menjadi urat nadi penghubung Kabupaten Bireuen dengan dataran tinggi Gayo, putus diterjang banjir bandang akhir November lalu.
Sejak kejadian itu, kehidupan warga di sekitar Juli, Bireuen, Aceh, berubah total. Mereka tak menunggu lama. Dengan sumber daya seadanya, sebuah sistem penyeberangan darurat mereka rancang menggunakan kabel baja itu. Sarana ini menjadi vital untuk memobilisasi orang, juga mengangkut barang-barang bantuan yang sangat dibutuhkan.
“Kami harus tetap bisa bergerak, berdagang, dan mengirim bantuan. Ini solusi sementara yang kami buat bersama,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, bukan cuma kabel baja yang jadi andalan. Kalau arus sungai tak terlalu deras, beberapa warga memilih cara yang lebih sederhana: menggunakan rakit dari ban bekas. Mereka mendayung perlahan, menyeberangi sungai dengan penuh kehati-hatian.
Namun begitu, harapan mulai tampak. Saat ini, proses pembangunan jembatan bailey pengganti di lokasi Teupin Mane sudah berjalan. Pekerjaan terus dilakukan untuk mengembalikan konektivitas yang sempat hilang itu.
Suara mesin dan aktivitas pekerja kini mulai terdengar, menandai babak baru pemulihan pascabencana. Warga pun menanti, sembari tetap bergantung pada kabel baja dan rakit ban mereka yang sederhana namun penuh makna.
Artikel Terkait
PSG Vs Bayern Munich di Semifinal Liga Champions, Laga Final Dini yang Diprediksi Ketat
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei
Polda Papua Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi di Merauke, Negara Rugi Hingga Rp197 Juta