Makan Bergizi Gratis di Sekolah Perkuat Solidaritas dan Gairah Belajar

- Kamis, 12 Maret 2026 | 17:30 WIB
Makan Bergizi Gratis di Sekolah Perkuat Solidaritas dan Gairah Belajar

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah ternyata bukan sekadar urusan perut kenyang. Menurut sejumlah pakar dan kajian sosiologi terbaru, inisiatif ini justru memupuk hal yang lebih mendasar: solidaritas dan semangat belajar anak-anak. Temuan ini sejalan dengan kajian Kemendikdasmen yang menempatkan MBG sebagai fondasi baru untuk pendidikan bermutu di Indonesia.

Sosiolog Musni Umar melihat peran sosial dari program ini cukup kentara. Menurutnya, MBG membangun interaksi sekaligus mendongkrak gairah belajar di lingkungan sekolah.

“MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak dalam lapar,” ujar Musni kepada wartawan, Kamis lalu.
“Secara sosiologis, di masa depan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang sehat, cerdas dan memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama. Itu semua berawal dari kedekatan yang terbangun sewaktu mereka makan bersama,” tambahnya.

Di sisi lain, Toni Toharudin dari Kemendikdasmen punya pandangan serupa. Baginya, MBG adalah fondasi baru untuk menciptakan pendidikan yang benar-benar berkualitas.

Dampaknya, kata Toni, merembet ke budaya sekolah secara keseluruhan. Makan bersama menciptakan ruang interaksi yang lebih inklusif dan erat.

“Kegiatan makan bersama itu jadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal. Ia bisa tumbuh lewat pengalaman sehari-hari yang dirancang dengan baik,” jelasnya.

Pengalaman sosial semacam ini dianggap krusial untuk membangun empati, kolaborasi, dan rasa tanggung jawab. Singkatnya, MBG membuka peluang bagi sekolah untuk menciptakan budaya belajar yang lebih sehat dan positif.

Relasi antara guru dan siswa pun ikut berubah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan kedua pihak dalam suasana yang lebih setara dan manusiawi. Interaksi seperti ini memperkuat apa yang disebut sebagai ‘psychological safety’ atau rasa aman secara psikologis pondasi penting untuk pembelajaran yang mendalam.

“Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.

Kesimpulan ini bukan tanpa bukti. Riset dari Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia pada Maret 2026, serta kajian Research Institute of Socio-Economic Development di bulan sebelumnya, mengarah pada temuan yang sama.

Studi itu melibatkan 1.267 sampel termasuk siswa, guru, orang tua, dan pengelola dapur di 30 sekolah yang tersebar di lima wilayah: Kota Kupang, Depok, Kabupaten Sukabumi, Garut, dan Pesisir Selatan. Intinya? Program MBG terbukti memperkuat kebersamaan di antara seluruh warga sekolah.

Namun begitu, manfaatnya tak berhenti di situ. Dari sisi ekonomi, program ini cukup meringankan beban orang tua, terutama dari kalangan menengah ke bawah.

Data riset menunjukkan hal yang menarik: sekitar 72 orang tua melaporkan anaknya kini lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Sementara 55 orang tua lainnya menyatakan anak mereka jadi lebih mudah menerima variasi makanan yang sebelumnya sering ditolak. Sebuah perubahan kecil yang dampaknya bisa sangat besar untuk masa depan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar