Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin akan ada perebutan kantor, berebut stempel, atau bahkan berebut kursi. Apa pun yang dianggap simbol kekuasaan, bisa jadi ajang tarik-ulur.
Lalu bagaimana dengan warga nahdliyin biasa? Santri di pelosok desa, masyarakat akar rumput? Mereka cuma bisa menyaksikan. Nonton dari jauh, sambil berharap-harap cemas. Seperti dulu, ketika Abu Hasan perlahan tenggelam dengan sendirinya setelah dimanfaatkan untuk melawan Gus Dur.
Memang, ketika satu pihak mulai terpuruk, biasanya ia akan tenggelam bersama seluruh kroni dan pendukungnya. Tapi politik itu selalu punya kejutan.
Belum tentu yang karam akan hilang selamanya. Selama semangatnya masih menyala dan ia tidak buru-buru menyerah, selalu ada peluang untuk bangkit lagi. Asal, ya, jangan sampai nekat naik ke menara SUTET.
(")
Artikel Terkait
PSG Hajar Chelsea 5-2 dalam Laga Spektakuler Babak 16 Besar Liga Champions
Valverde Cetak Hattrick, Real Madrid Hancurkan Manchester City 3-0 di Liga Champions
12 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Awal Orde Baru Hingga Pawai Garam Gandhi
Panglima TNI Lakukan Rotasi Besar-besaran, Pangdam Jaya Naik Pangkat