✍🏻AS Laksana
Konflik di tubuh PBNU ini memang bikin mumet. Tapi kalau ditarik benang merahnya, jalan ceritanya sebenarnya bisa ditebak. Logikanya akan mengarah ke situ-situ juga.
Pertama, Rais ‘Aam mengeluarkan surat pemecatan. Begitu nama Gus Yahya dicoret, seolah-olah mandat besar yang dulu dia terima dari suara mayoritas muktamar ikut menguap begitu saja. Padahal, surat itu cuma ditandatangani satu orang.
Nah, karena jalan damai tampaknya sudah buntu, Rais ‘Aam kemungkinan besar akan segera mengumumkan penggantinya. Mungkin dalam hitungan hari. Orang yang ditunjuk nanti akan diberi jabatan sebagai pelaksana tugas, atau penjabat ketua umum tanfidziyah. Terserah istilah resminya nanti mau pakai apa.
Di sisi lain, Gus Yahya tentu saja tidak terima. Baginya, pemecatan itu tidak sah dan cuma aksi sepihak. Alhasil, dia akan menolak dan bersikukuh tetap menjabat sebagai ketua umum. Dia akan tetap berbicara atas nama posisinya, tetap menandatangani surat-surat penting, dan seterusnya.
Artinya? Ya, bakal ada dua kepengurusan PBNU yang klaim sama-sama sah.
Artikel Terkait
Sungai di Depan Mata, Dana Mengalir ke Danau Seberang: Dilema Investor Kripto Muda Indonesia
Hilangnya Ratusan Setu, Akar Masalah Banjir Jakarta Menurut Sekretaris Negara
Lubang Utang Rp 800 Triliun: Pemerintah Terjebak Siklus Gali Tutup
Presiden Prabowo Pantau Banjir Jakarta dari Eropa, Perintahkan Modifikasi Cuaca