Bagi Yunani, peristiwa semacam ini seolah mengingatkan kembali pada masa-masa sulit. Negeri ini pernah menjadi garis depan dalam krisis migran besar antara 2015 dan 2016. Kala itu, gelombang manusia dari Timur Tengah dan Afrika jutaan orang mencari perlindungan, dengan Yunani sebagai gerbang utama menuju Eropa.
Memang, arus pengungsi sempat mereda. Tapi keadaan berubah lagi tahun lalu. Ada lonjakan signifikan kedatangan imigran yang berangkat dari Libya. Rute mereka pun bergeser.
Alih-alih ke pulau-pulau di utara, kini tujuan banyak yang menuju ke selatan. Pulau Kreta, Gavdos, dan Chrysi tiga titik di Laut Aegea yang paling dekat dengan pesisir Afrika menjadi persinggahan pertama yang penuh risiko. Laut di sana bisa berubah-ubah, dan perjalanan dengan kapal tak layak selalu mengancam nyawa.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional