Dari Tangerang ke Papua: Seorang Guru Menemukan Panggilan di Ujung Timur Indonesia

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 11:42 WIB
Dari Tangerang ke Papua: Seorang Guru Menemukan Panggilan di Ujung Timur Indonesia

Semangat mengajar bisa datang dari mana saja. Bagi Noreka Elisabeth, semangat itu begitu kuat, sampai-sampai ia rela meninggalkan keluarganya di Tangerang. Tujuannya satu: ikut membentuk masa depan anak bangsa, jauh di Papua.

“Pengumumannya awal Juli 2025, dapat kabar dari suami subuh-subuh,” kenangnya. “Masya Allah, penempatannya di Jayapura. Kaget, jujur saja. Nggak nyangka bakal dikirim sampai ke ujung timur Indonesia.”

Perempuan asal Sragen, Jawa Tengah ini ditemui di SRMA 29 Kota Jayapura, di Kecamatan Abepura. Setelah lulus dari Jurusan Bahasa Indonesia FKIP UNS pada 2023, ia merasa dunia kelas adalah panggilan jiwanya. Tanpa banyak pikir, ia langsung ambil Program Profesi Guru (PPG) di LPTK Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Jarak? Bukan masalah besar. Perjalanan empat jam antarprovinsi yang ia tempuh hampir tiap hari tak pernah ia sesali.

“Saya malah anggap itu kesempatan,” ujarnya mantap. “Sebuah proses, petualangan. Tadinya saya pikir cuma akan mengajar. Ternyata, dari petualangan itulah saya sadar: di sini, sayalah yang justru banyak belajar. Belajar jadi guru yang sesungguhnya.”

Di balik tekadnya, ada dukungan yang ia akui sangat vital: restu dari suami dan mertuanya. Sang suami, seorang abdi negara di Lapas Kelas 1 Tangerang, selalu mendukung pilihannya sejak mereka menikah di tahun 2020.

Memang, proses jodoh mereka terbilang singkat, terjalin saat Noreka masih kuliah. Namun begitu, visi hidup mereka ternyata selaras. Peran mertuanya pun tak kalah besar.

Bagi Noreka, sang mertua telah menggantikan sosok ibu kandungnya yang telah wafat. Mereka bahu-membahu menjaga anak Noreka yang masih balita, baik saat ia menempuh PPG dulu, maupun sekarang saat ia bertugas di Papua.

Kepercayaan semacam itulah yang membuatnya mantap melangkah. Ia yakin mengambil kesempatan untuk mengajar siswa-siswa istimewa di Sekolah Rakyat.

“Visi misi sekolah ini sangat mulia,” jelasnya. “Itu yang menarik perhatian saya. Sebuah kesempatan emas untuk benar-benar berkontribusi di dunia pendidikan.”

Adaptasi di tanah baru ternyata berjalan relatif lancar. Menurut sejumlah saksi, pengelola sekolah di Papua sangat membantu, dan rasa senasib sepenanggungan dengan sesama guru pendatang dari Jawa memperkuat ikatan. Sambutan hangat langsung mereka dapat dari Kepala Sekolah, Yanet Berotabui, sejak hari pertama tiba.

“Pertama ketemu langsung dipeluk,” ujar Noreka sambil tersenyum. “Disambut dengan senyuman dan kehangatan yang sampai sekarang masih terasa. Beliau sudah seperti orang tua kami di sini.”

Bahkan, sang kepala sekolah langsung menanyakan kebutuhan pribadi dan perlengkapan mengajar apa saja yang masih kurang. Sikap itu membuatnya merasa diterima.

“Mungkin Papua memang butuh sosok guru dari Jawa. Khususnya saya dan teman-teman yang lain,” tambahnya.

Selain mendapat keluarga baru, Noreka bersyukur untuk pengalaman yang tak terduga. Ia beberapa kali diundang ke Jakarta untuk mengikuti diklat, bahkan mengisi siniar di Kemendikbudristek untuk berbagi cerita sebagai guru Sekolah Rakyat. Dunia public speaking yang baru baginya itu jadi nilai tambah yang berharga.

“Allah nggak mungkin kasih sesuatu yang cuma sedih saja,” katanya merenung. “Pasti ada hikmahnya. Hidup ini, ya, harus seimbang.”

Keseimbangan itu ia coba raih dalam perannya sebagai pendidik, istri, dan ibu. Meski jarak memisahkan, interaksi rutin lewat video call dengan anak, suami, dan mertua selalu ia usahakan. Kata-kata sang suami menjadi penenang hatinya.

“Dia selalu bilang, jalankan tugas untuk negeri ini. Insya Allah, kalau kita mengajar dan menjaga anak orang, Allah yang akan jaga anak kita sendiri. Itu kata-kata yang sangat menenangkan saya.”

Kasih sayang berlimpah dari keluarga di rumah membuatnya bisa fokus membagikan ilmu pada anak-anak Papua. Antusiasme mereka sejak pertemuan pertama langsung terasa.

“Pertama ketemu, saya excited. Mereka sangat antusias,” kenang Noreka.

Timbal balik positif itu ia rasakan bahkan dari sapaan sederhana. “Sapaan ‘Selamat pagi, Ibu Guru’ dari mereka itu… berkesan sekali. Hal yang tidak selalu saya dengar di Jawa,” ujarnya, suara terdengar haru.

Kedekatan dengan siswa juga terjalin di luar kelas. Lewat berbagai aktivitas fisik yang difasilitasi, seperti badminton, voli, atau sepak bola, hubungan jadi lebih cair. Kadang, bakat menyanyi beberapa siswa pun ikut mengemuka.

“Di sini nggak cuma mengajar di depan kelas,” ulasnya. “Tapi juga melihat kondisi lapangan, mengimplementasikan ilmu dari PPG dulu. Harus paham karakteristik peserta didik, lingkungan, sosial budayanya. Nah, itu tantangan sekaligus pelajaran berharga buat saya.”

Kisah Noreka di tanah Papua ini barangkali bisa jadi pemantik semangat. Bagi pendidik lain yang ingin berkontribusi pada pemerataan pendidikan, perjalanannya menunjukkan bahwa di balik pengorbanan, ada pemenuhan cita-cita dan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Saya sudah usahakan cita-cita ini sebaik mungkin,” pungkas Noreka. “Lalu dapat rezeki diterima di sini. Mungkin bagi orang lain ini hal biasa. Tapi bagi saya, akan sangat menyesal kalau kesempatan ini saya lewatkan.”

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini