Ustaz Abu Bakar Baasyir Serukan Penerapan Syariat Islam di Reuni 212

- Jumat, 05 Desember 2025 | 06:25 WIB
Ustaz Abu Bakar Baasyir Serukan Penerapan Syariat Islam di Reuni 212
Hasil Penulisan Ulang

Jakarta – Udara malam di sekitar Monas, Selasa (2/12/2025) lalu, terasa berbeda. Kerumunan massa yang memadati Reuni Akbar 212 menyambut kehadiran seorang tokoh: Ustaz Abu Bakar Baasyir. Kehadiran ulama sepuh itu langsung menyedot perhatian.

Dalam sambutannya, ABB menyampaikan pesan yang tegas. Ia mengingatkan tentang totalitas dalam beragama. Menurutnya, syariat Islam harus dijalankan secara utuh, tak boleh dipilah-pilih atau dipotong begitu saja.

“Seluruh syariat Islam itu harus diamalkan, tidak boleh dipotong satupun. Karena kebenaran mutlak di dunia itu hanya Islam,” tegasnya.

Ia meyakini, hanya dengan hukum Islam lah manusia bisa menjadi baik. ABB lantas mengutip sebuah ayat tentang Allah sebagai pelindung orang beriman, yang membawa dari gelap menuju terang. Sebaliknya, kata dia, mengikuti selain Allah justru menjerumuskan ke arah yang berlawanan: “kegelapan setelah hidup terang”.

Narasi itu kemudian ia kaitkan dengan kondisi negara. Pandangannya jelas: keselamatan individu dan bangsa, dalam perspektifnya, hanya bisa diraih lewat penerapan hukum Islam.

“Negara yang dihukumi dengan Islam itu kendaraan ke surga. Tapi kalau diatur selain Islam, itu kendaraan menuju neraka,” tuturnya.

Ia berusaha meluruskan. Penyampaian ini, katanya, bukan soal kekerasan atau kesombongan. Ini soal menyampaikan kebenaran yang ia yakini.

Di sisi lain, ABB juga membagi pandangannya tentang penerapan syariat. Ada yang mengatur urusan pribadi sehari-hari, dan ada yang mengatur negara. Ia berpendapat, hidup di negara yang menerapkan hukum Islam adalah ideal bagi umat Muslim agar iman tak rusak. Namun begitu, perjuangan menuju situasi itu, ditegaskannya, harus damai.

“Dalam perjuangannya jangan ada kekerasan. Cukup dengan dakwah dan doa. Masyarakat kita dakwahi, pemerintah pun kita nasihati,” ujarnya.

Tugas kita, lanjutnya, cuma menasihati dan mendoakan dengan cara damai. Soal perubahan hati, itu sepenuhnya wewenang Allah.

Sebagai penutup, ia kembali mengajak para ulama, habaib, dan tokoh masyarakat untuk konsisten menasihati pemerintah. Tujuannya satu: agar negara ini suatu hari nanti diatur dengan hukum Islam. Sekali lagi ia menegaskan, ajakan ini adalah seruan kebenaran, bukan hasutan untuk bertindak kasar.

Reporter: Suhail

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar