Di sisi lain, Menteri Raja Juli Antoni tak tinggal diam. Menanggapi kemarahan Titiek, ia menyebut pemerintah sudah bergerak cepat. Investigasi atas asal-usul kayu yang terbawa banjir telah dimulai. Bahkan, sejak Juni lalu, tindakan hukum sudah dilakukan di beberapa titik rawan seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Di Tapanuli Selatan, contohnya, kami temukan truk membawa kayu tanpa dokumen sah," jelas Raja Juli.
Ia berjanji akan menindak tegas jika investigasi menemukan unsur pidana. Lebih dari itu, ia mengakui bencana ini adalah alarm keras. Sebuah peringatan untuk mengevaluasi tata kelola hutan secara menyeluruh. "Ini melecut saya dan jajaran di Kemenhut untuk refleksi dan evaluasi forest governance," ucapnya.
Raja Juli juga menegaskan satu hal penting: tragedi di Sumatra bukan semata musibah alam. Ada campur tangan manusia di sana. Deforestasi dan pelanggaran aturan turut memperparah keadaan. Ia pun meminta semua pihak, termasuk DPR dan masyarakat, untuk melihat masalah ini secara jernih, bukan sekadar menyalahkan cuaca ekstrem.
Rapat pun berlanjut dengan nada yang masih serius. Namun satu hal yang jelas: kemarahan seorang Titiek Soeharto telah membuka ruang diskusi yang lebih keras dan blak-blakan soal nasib hutan Indonesia. Sekarang, tinggal menunggu tindak lanjutnya.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah