Anak Menkeu Sebut Nama, Saham PT Toba Pulp Lestari Anjlok

- Kamis, 04 Desember 2025 | 10:40 WIB
Anak Menkeu Sebut Nama, Saham PT Toba Pulp Lestari Anjlok

Banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera belakangan ini memicu perdebatan sengit. Penyebabnya? Seorang anak Menteri Keuangan, Yudo Sadewa, dengan berani menuding penggundulan hutan sebagai biang keladinya. Lewat unggahan di Instagram, ia tak cuma menyoroti kerusakan ekosistem, tapi juga langsung menyebut nama: PT Toba Pulp Lestari.

"Dan ternyata yang melakukan penggundulan hutan di Sumatera adalah PT Toba Pulp Lestari yang menyebabkan banjir di Sumatera Utara dan Aceh," tulisnya. Ia lalu menambahkan kalimat yang bikin penasaran, "Tau kan punya siapa?"

Unggahan itu langsung jadi buah bibir. Efeknya cepat terasa. Bahkan, saham perusahaan tersebut di Bursa Efek dikabarkan langsung terjun bebas.

Di sisi lain, tentu saja, bantahan pun datang. PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) dengan tegas menampik semua tudingan itu. Perusahaan kertas ini bersikukuh bahwa operasional mereka sudah mengikuti aturan Pengelolaan Hutan Lestari. Mereka bilang, kegiatan Hutan Tanaman Industri mereka sudah dievaluasi oleh lembaga independen soal nilai konservasi dan stok karbonnya.

Yang menarik, dari total konsesi seluas 167.912 hektare, hanya sekitar 46.000 hektare yang dipakai untuk menanam eucalyptus. Sisanya, kata mereka, dipertahankan sebagai zona lindung.

Dalam keterangan resminya ke BEI, perusahaan menyatakan,

"Perseroan menghormati penyampaian aspirasi publik, namun mengharapkan informasi yang disampaikan didasarkan pada data yang akurat dan dapat diverifikasi. Perseroan tetap membuka ruang dialog konstruktif."

Corporate Secretary mereka, Anwar Lawden, juga menegaskan hal serupa. "Perseroan dengan tegas membantah tuduhan bahwa operasional menjadi penyebab bencana ekologi," ujarnya.

Lalu, siapa sebenarnya pemilik perusahaan yang jadi sorotan ini? Kisah kepemilikannya cukup berliku. Awalnya, perusahaan bernama PT Inti Indorayon Utama ini didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Operasinya sempat dihentikan oleh Presiden BJ Habibie di tahun 1999 untuk diselidiki, meski audit lingkungan yang dijanjikan tak kunjung terlaksana.

Namun sekarang, kepemilikannya sudah berganti. Berdasarkan data BEI, mayoritas sahamnya tepatnya 92,54 persen dikuasai oleh perusahaan investasi asal Hong Kong, Allied Hill Limited. Pemegang saham pengendali akhirnya adalah Joseph Oetomo melalui Everpro Investments Limited. Hanya sebagian kecil, 7,46 persen, yang beredar di publik.

Jadi, di tengah musibah yang menyedihkan itu, polemik terus bergulir. Satu pihak menuding, pihak lain membantah. Sementara alam, mungkin, hanya bisa menunggu siapa yang benar-benar bertanggung jawab untuk merawatnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar