Dapur Gizi Terancam Lumpuh, Pasokan Bahan dan Gas Menipis Usai Banjir Aceh

- Rabu, 03 Desember 2025 | 10:06 WIB
Dapur Gizi Terancam Lumpuh, Pasokan Bahan dan Gas Menipis Usai Banjir Aceh

Banjir besar yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memaksa para pengelola dapur gizi untuk berpikir cepat. Kreativitas pun jadi senjata utama. Pasalnya, stok bahan pangan untuk memasak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai menipis, bahkan langka di beberapa titik.

“Kami sedang berupaya untuk mengganti menu dengan menu lokal karena bahan pangan untuk SPPG-SPPG ini mengalami kelangkaan,”

Ujar Kepala Regional SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, Mustafa Kamal, Rabu (3/12) pagi. Ia menjelaskan, koordinasi sudah dilakukan untuk mengusulkan perubahan menu. Rencananya, bahan-bahan seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, tahu tempe, serta ikan dari kolam warga akan jadi andalan.

Alasannya sederhana: bahan lokal itu masih bisa ditemukan. “Bahan makanan lokal ini tersedia di wilayah Aceh Barat, Bireun, dan Pidie,” katanya.

Namun begitu, masalahnya tak cuma soal bahan makanan. Pasokan gas untuk memasak pun ikut tersendat. Kamal mengaku sudah bertemu dengan Dinas ESDM Aceh. Tapi, untuk normalnya pasokan gas, butuh waktu satu hingga dua bulan lagi. Solusi yang ditawarkan? Briket batu bara.

“Kemarin kami sudah bertemu ESDM Aceh yang menawarkan briket batu bara,” kata Kamal.

Air Susah, Listrik Belum Stabil

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah air bersih dan listrik. Mereka sudah menghubungi PDAM, sayangnya belum ada kepastian kapa instalasi air yang rusak parah bisa diperbaiki. Listrik? Keadaannya masih fluktuatif. Banyak jaringan yang terendam dan belum berfungsi normal.

Kondisi ini berdampak langsung. Sebanyak 19 SPPG di Kabupaten Bireun terpaksa menghentikan operasinya. Menurut temuan lapangan Tim Deputi Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) BGN yang dipimpin Letjen TNI (Purn.) Dadang Hendrayuda, penyebab utamanya jelas: kelangkaan bahan baku, gas, air bersih, dan listrik.

26 SPPG Beroperasi, Bantuan Dialihkan untuk Korban

Secara umum, di Bireun sebenarnya ada 26 SPPG yang berjalan. Tapi banjir merusak dua unit sejak awal, tepatnya di Kecamatan Jangka dan Peusangan. Dampaknya langsung terasa.

Di tengah situasi darurat ini, program Makanan Bergizi (MBG) yang biasanya untuk siswa sekolah pun dialihkan. Sekolah diliburkan, sehingga bantuan dialirkan ke masyarakat, khususnya korban bencana. Sebanyak 21 SPPG terlibat dalam penyaluran ini.

Angkanya cukup besar. Pada 26 November, mereka mendistribusikan 62.826 paket. Esok harinya, 27 November, bertambah 30.261 paket. Tanggal 28 November, ada 37.180 paket yang sampai ke tangan warga.

“Sementara pada 29 November 2025 dikirimkan 38.668 paket bantuan,” jelas Mustafa Kamal.

Kolaborasi dengan Pemkab Bireun juga dilakukan dengan meminjamkan lima kendaraan operasional pada 26-30 November. Bahkan, tiga mobil distribusi dikerahkan lagi pada 2 Desember untuk mempercepat bantuan.

Tapi semua upaya itu akhirnya mentok. Kelangkaan bahan baku, listrik yang tak menentu, air bersih yang sulit, plus pasokan gas yang minim, memaksa SPPG yang semula bertahan akhirnya berhenti beroperasi. Situasinya memang berat.

“Untuk sementara kami baru dapat melanjutkan operasional hingga hari ini, 3 Desember 2025,” tutup Kamal dengan nada prihatin.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar