Kuasa Hukum Bobby: Silakan Laporkan, Kami Tunggu

- Selasa, 21 April 2026 | 00:05 WIB
Kuasa Hukum Bobby: Silakan Laporkan, Kami Tunggu

Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (20/4) lalu, suasana terasa tegang. Kubu Irvian Bobby Mahendro, terdakwa yang dijuluki 'sultan' Kemnaker itu, justru terlihat santai menanggapi rencana pelaporan polisi oleh Silvia Rinita Harefa, istri eks Wamenaker Noel. Mereka sama sekali tidak keberatan.

"Itu hak mereka ya," ujar Risky Nugroho, salah satu pengacara Bobby. Suaranya datar. "Kalau mereka merasa nama baiknya tercoreng selama persidangan, silakan saja. Kami tunggu."

Pernyataan itu dilontarkan usai Bobby membuat kesaksian yang menggegerkan di depan majelis hakim. Menurut pengacaranya yang lain, Hervan Dewantara, semua yang diungkapkan kliennya itu disampaikan di bawah sumpah. Jadi, harus dianggap serius.

"Keterangan mana lagi yang mesti kita percayai kalau bukan yang di depan sidang dan di bawah sumpah?" kata Hervan. Ia meyakini Bobby punya dasar kuat. "Prinsipnya, keterangan seperti itu dianggap benar, sampai ada bukti yang menyangkal."

Ia juga menambahkan, Bobby pasti punya alasan. "Nggak mungkin beliau bicara asal-asalan tanpa dasar dan bukti."

Hervan bahkan menyebut, saat menyampaikan kesaksiannya, Bobby sempat meneteskan air mata. Rupanya, tekanan yang diterimanya bukan main-main. "Bukan cuma ke beliau, tapi sampai ibunya juga dihubungi. Itu yang membuatnya sangat terbebani," ucap Hervan, mengulang kesaksian Bobby di persidangan.

Lebih jauh, momen menjadi saksi ini disebut sebagai kesempatan Bobby untuk mengungkap fakta sebenarnya. Menurut pengakuannya, ia hanyalah 'bumper' orang yang dikorbankan untuk menampung uang non-teknis dari pengurusan sertifikat K3, yang konon untuk kepentingan pimpinan.

"Iya, beliau mengakui dirinya dikorbankan. Jadi, posisinya adalah penerima uang dari PJK3 yang ujung-ujungnya untuk kebutuhan atasan," jelas Hervan.

Namun begitu, cerita dari sisi lain sama sekali berbeda.

Silvia Rinita Harefa membantah keras semua tuduhan intimidasi itu. Ia malah berencana melaporkan Bobby ke polisi karena dianggap memberikan keterangan palsu di sidang.

"Aku nggak pernah intimidasi. Bobby itu banyak bohongnya, hal kecil aja dikarang," kata Silvia di lokasi yang sama. Suaranya terdengar kesal. "Karena itulah, rencananya aku akan laporkan kebohongan ini."

Menurut Silvia, komunikasinya dengan ibu Bobby hanya sekadar basa-basi biasa. Saat berkunjung ke rutan, mereka sempat bertemu dan saling menyemangati. Itu saja.

"Aku cuma bilang, 'Mih, kita saling dukung aja. Jangan saling memberatkan, biar kita semua dapat hukuman yang ringan'. Cuma segitu," tegasnya.

Sebelumnya, dalam kesaksiannya, Bobby menyebut dirinya baru dipindah dari Rutan Merah Putih ke Rutan C1 gedung lama KPK. Ia lalu menceritakan, ibunya mendapat telepon dari Silvia yang intinya meminta Bobby untuk tutup mulut.

Jaksa pun bertanya, "Ada lagi yang terkait dengan Terdakwa Immanuel?"

"Iya. Ibu saya datang saat jam kunjungan, dan menyampaikan bahwa beliau dihubungi istri Saudara Immanuel. Pesannya, saya diminta untuk tidak ngomong apa-apa," jawab Bobby.

Bobby mengaku langsung menenangkan ibunya. Ia berjanji akan mengatakan yang sebenarnya di depan hakim. Tekanan dan intimidasi, katanya, sudah ia rasakan sejak pertama kali masuk rutan.

"Saya bilang ke mama, tenang saja. Fakta yang sesungguhnya akan saya sampaikan di sini," ujarnya. "Intimidasi itu sudah berlangsung lama."

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar