Yang paling memilukan, dan sulit dicerna akal sehat, adalah bagaimana bangsa ini seolah memberi karpet merah pada para pejabat tersebut. Izin-izin berakibat fatal itu terus saja dikeluarkan, seakan kerusakan alam bukanlah harga yang harus dibayar.
Maka, bencana di Sumatera ini bukanlah sekadar musibah alam biasa. Lebih dari itu, ia adalah sebuah "rencana". Koreksi jika saya salah. Buktinya? Kayu gelondongan yang hanyut deras di sungai-sungai yang meluap itu adalah saksi bisunya.
Mungkin itulah alasan sesungguhnya. Coba perhatikan, pemberitaan media lebih ramai membahas skandal artis atau hal receh seperti tumbler hilang. Semuanya seakan dikelola untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan sebesar ini.
Seperti yang diungkapkan seorang netizen dalam cuitan yang viral: "Gw suka ulasannya, berani sebut nama."
Ungkapan itu mewakili rasa frustasi banyak orang. Suara yang menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban, di tengah banjir yang tak hanya membawa air, tetapi juga segala persoalan lama yang tak kunjung usai.
Artikel Terkait
Prabowo Menitikkan Air Mata di Pernikahan Sekretaris Pribadinya
Pernikahan di Tengah Banjir, Sukacita Tak Tergenang Air
Hujan Deras Guyur Jakarta, 38 RT dan 12 Ruas Jalan Masih Terendam
Partai Gerakan Rakyat Resmi Dideklarasikan, Anies Baswedan Jadi Sorotan