Pernah nggak sih, hidup terasa kayak puzzle yang potongannya selalu hilang? Kita bangun pagi dengan kepala penuh rencana, tapi hati malah kosong melompong. Kita sibuk mengejar hal-hal besar cita-cita, pengakuan, kebanggaan sampai-sampai lupa, hidup ini sebenarnya bergerak lewat hal-hal receh yang sering kita anggap remeh.
Memang, kita terbiasa mengukur segalanya dari pencapaian. Seberapa jauh berjalan, seberapa tinggi naik. Padahal, nggak semua hari harus terlihat megah. Kadang, keberanian terbesar cuma soal memberanikan diri bangun dari kasur. Di saat-saat tertentu, cuma bertahan saja sudah jadi kemenangan yang tak pernah dapat standing applause.
Nah, yang sering luput dari perhatian adalah betapa banyak hal kecil yang diam-diam jadi penyelamat. Ambil contoh aroma kopi pagi dari dapur. Entah kenapa, baunya bikin hari terasa lebih ringan. Atau pesan singkat "hati-hati di jalan" dari seseorang yang mungkin jarang kita temui, tapi pedulinya terasa banget. Belum lagi senyum sekilas dari orang asing; gesture sederhana itu bisa bikin dunia terasa sedikit lebih ramah.
Di sisi lain, hidup juga punya cara mengajarkan soal kehilangan. Rasanya memang bukan akhir, tapi lebih seperti ruang baru untuk bertumbuh. Kita mungkin terpukul saat ditinggalkan, dikhianati, atau gagal di momen yang paling kita percaya. Tapi ya begitulah, hidup punya caranya sendiri untuk memaksa kita melangkah lagi pelan, goyah, tapi tetap maju. Beberapa luka mungkin nggak pernah benar-benar hilang, tapi itu nggak lantas membuat kita berhenti.
Artikel Terkait
Dari Aceh ke Donbass: Kisah Briptu yang Desersi dan Jadi Tentara Bayaran Rusia
Senator Papua Kritik Lembaga Baru: Papua Butuh Dialog, Bukan Birokrasi
Gema Bangsa Resmi Melangkah, Langsung Dukung Prabowo di 2029
Sutoyo Abadi Soroti Kekeliruan Fatal: Kedaulatan Rakyat Bukan Milik DPR