Warga Desa Pallime di Bone Bertumpu pada Sungai sebagai Jalan Utama

- Senin, 09 Maret 2026 | 17:00 WIB
Warga Desa Pallime di Bone Bertumpu pada Sungai sebagai Jalan Utama
Kehidupan di Atas Air

Jalan Raya Mereka Bernama Sungai

Di Desa Pallime, Kabupaten Bone, rutinitas pagi dimulai bukan dengan deru motor atau bunyi klakson. Suara yang lebih dulu terdengar adalah desiran air dan dengung mesin tempel perahu.

Ini adalah pemandangan sehari-hari. Desa yang terletak di Kecamatan Cenrana, Sulawesi Selatan ini punya karakteristik geografis yang unik: dikelilingi aliran sungai. Kondisi alam itu, mau tak mau, membentuk cara hidup warganya. Perahu, bukan roda, yang jadi tulang punggung mobilitas.

Dari subuh, warga sudah sibuk di dermaga-dermaga kecil. Mereka menyeberang untuk bekerja, mengantar anak-anak ke sekolah, atau membawa hasil bumi ke pasar. Ada yang menggunakan perahu dayung sederhana, ada pula yang mengandalkan ketek bermesin. Semuanya bergerak pelan namun pasti, menyusuri jalur air yang telah menjadi bagian dari identitas mereka.

Salah satu warga, Ina, bercerita bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Baginya, sungai adalah jalan raya.

“Kalau mau ke kebun atau ke tempat kerja, biasanya pakai perahu. Lebih cepat lewat sungai dibanding harus memutar lewat darat,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan warga dengan sungai sangat intim. Jalur air ini tidak sekadar penghubung antar rumah, tapi juga menuju area persawahan dan desa tetangga. Di sisi lain, sungai juga memberikan nafkah. Banyak yang memanfaatkannya untuk mencari ikan atau sebagai jalur pengangkutan hasil panen.

Namun begitu, di balik keakraban ini, ada kerinduan akan kemudahan. Warga sebenarnya mendambakan akses darat yang lebih baik. Harapan itu disampaikan langsung oleh Kepala Desa Pallime, Musdalifah.

Ia menegaskan bahwa jembatan adalah kebutuhan paling mendesak. Impian yang sudah diidamkan warga sejak lama.

“Ada lima desa yang sejak lama mengusulkan pembangunan jembatan. Masing-masing Ajallasse, Pallime, Pusungnge, Laoni, dan Latonro,” jelas Musdalifah.

Terlepas dari tantangan infrastruktur, Pallime punya pesona yang sulit disangkal. Hamparan sungai yang membelah wilayahnya, ditambah dengan aktivitas warga yang harmonis dengan perahu, menciptakan potret pedesaan yang khas dan memikat di Cenrana.

Keunikan ini menjadikan Pallime lebih dari sekadar sekumpulan rumah. Desa ini adalah sebuah cerita tentang adaptasi, tentang bagaimana manusia membangun ritme kehidupannya selaras dengan alam sekitarnya. Sebuah pelajaran sederhana tentang bertahan dan bersahabat dengan lingkungan.

Disarikan dari berbagai keterangan warga dan perangkat desa.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar