Jalan Raya Mereka Bernama Sungai
Di Desa Pallime, Kabupaten Bone, rutinitas pagi dimulai bukan dengan deru motor atau bunyi klakson. Suara yang lebih dulu terdengar adalah desiran air dan dengung mesin tempel perahu.
Ini adalah pemandangan sehari-hari. Desa yang terletak di Kecamatan Cenrana, Sulawesi Selatan ini punya karakteristik geografis yang unik: dikelilingi aliran sungai. Kondisi alam itu, mau tak mau, membentuk cara hidup warganya. Perahu, bukan roda, yang jadi tulang punggung mobilitas.
Dari subuh, warga sudah sibuk di dermaga-dermaga kecil. Mereka menyeberang untuk bekerja, mengantar anak-anak ke sekolah, atau membawa hasil bumi ke pasar. Ada yang menggunakan perahu dayung sederhana, ada pula yang mengandalkan ketek bermesin. Semuanya bergerak pelan namun pasti, menyusuri jalur air yang telah menjadi bagian dari identitas mereka.
Salah satu warga, Ina, bercerita bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Baginya, sungai adalah jalan raya.
“Kalau mau ke kebun atau ke tempat kerja, biasanya pakai perahu. Lebih cepat lewat sungai dibanding harus memutar lewat darat,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan warga dengan sungai sangat intim. Jalur air ini tidak sekadar penghubung antar rumah, tapi juga menuju area persawahan dan desa tetangga. Di sisi lain, sungai juga memberikan nafkah. Banyak yang memanfaatkannya untuk mencari ikan atau sebagai jalur pengangkutan hasil panen.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Hujan Guyur Sulawesi Selatan Sepanjang Hari, Waspada Potensi Angin Kencang
Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Siaga Penuh Dua Pekan Saat Lebaran
Dua Pemuda Mabuk Jadi Tersangka Pengeroyolan Kapolsek Kaliwungu
Bupati Bone Gerak Cepat Atasi Kelangkaan Beras Jelang Lebaran