Duka dan Harapan di Sumatera: Alumni Akpol 2005 Kirim Ribuan Paket untuk Korban Bencana

- Senin, 01 Desember 2025 | 15:06 WIB
Duka dan Harapan di Sumatera: Alumni Akpol 2005 Kirim Ribuan Paket untuk Korban Bencana

Angka korban terus bertambah. Di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bencana banjir dan tanah longsor telah meninggalkan luka yang dalam. Hingga akhir November, data terbaru menyebutkan 442 orang meninggal dunia. Yang mencemaskan, ratusan lainnya tepatnya 402 jiwa masih dinyatakan hilang dalam pelukan bumi dan air yang murka.

Wilayah terdampak begitu luas. Di tengah kepiluan itu, kebutuhan mendesak akan logistik, makanan, dan dukungan psikologis meledak. Banyak keluarga kehilangan segalanya dalam sekejap; rumah, harta, bahkan sanak saudara. Mereka kini bergantung pada uluran tangan dari berbagai pihak.

Di sisi lain, harapan itu datang dari tempat yang tak terduga. Paguyuban Alumni Akpol 2005 turun tangan, mengirimkan ribuan paket sembako untuk korban di Sumatera. Bantuan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud nyata empati dan solidaritas. Sebuah dukungan moral yang sangat dibutuhkan saat masyarakat berjuang bangkit dari puing-puing bencana.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Wahyu Hidayat, turun langsung mengawal pengiriman bantuan. Ia sendiri adalah bagian dari angkatan 2005 itu.

“Ini murni dari hati. Kami cuma ingin saudara-saudara di sana tahu, mereka tidak sendiri. Sedikit bantuan ini, semoga bisa meringankan beban yang mereka tanggung,” ujar Wahyu Hidayat, Senin lalu.

Ia menekankan, aksi tersebut lahir dari rasa kebersamaan yang kuat di antara para alumni.

Menurut rencana, seluruh bantuan logistik itu diangkut menggunakan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat. Kapal tersebut berlayar dari Surabaya dengan tujuan utama Sumatera Utara, sebelum akhirnya didistribusikan lebih lanjut ke titik-titik terdampak terparah di berbagai daerah.

Harapannya jelas: pemulihan segera terwujud. Wahyu Hidayat dan kawan-kawan berharap masyarakat Sumatera bisa kembali bangkit, lebih kuat dari sebelumnya. Jalan masih panjang, tapi setidaknya mereka tak berjalan sendirian.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar