Unjuk Rasa Menyusul Permintaan Pengampunan Netanyahu
Gelombang protes langsung menyapu Tel Aviv. Ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi memohon pengampunan dari Presiden Isaac Herzog terkait kasus korupsi yang menjeratnya. Situasinya langsung memanas.
Pada hari Minggu (1/12), kerumunan massa sudah berhimpun di depan kediaman Presiden Herzog. Mereka bukan cuma rakyat biasa, lho. Sejumlah anggota parlemen dari kubu oposisi juga turut serta, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
Di tengah kerumunan, spanduk-spanduk kontroversial terlihat jelas. Salah satunya menuliskan kalimat pedas: "Pengampunan = Republik Pisang." Intinya, mereka mendesak Herzog untuk menolak mentah-mentah permintaan sang PM.
Aktivis antipemerintah, Shikma Bressler, menyuarakan kemarahan yang dirasakan banyak orang.
"Dia mau persidangannya dibatalkan begitu saja. Tanpa ada pengakuan salah, tanpa tanggung jawab. Padahal, dia sudah menghancurkan negara ini," ujarnya, dengan nada getir.
"Rakyat Israel paham betul apa yang sedang dipertaruhkan. Ini menyangkut masa depan kami semua," tambah Bressler.
Memang, persidangan Netanyahu sudah berlarut-larut nyaris lima tahun. Dia terjerat dalam tiga kasus korupsi yang terpisah, mulai dari dugaan suap hingga penyalahgunaan wewenang.
Tak cuma itu, dia juga dituding mencoba melobi sejumlah media agar pemberitaannya selalu mendukung dirinya. Serius, kasusnya kompleks banget.
Namun begitu, sebagai perdana menteri terlama di Israel, Netanyahu tetap bersikukuh. Dia membantah semua tuduhan itu, berulang kali.
Permintaannya ke Herzog pun terbilang berani: minta ampun total, tanpa syarat mengaku bersalah, dan tanpa penyesalan. Bagi para pengunjuk rasa, ini seperti menginjak-injak proses hukum.
Netanyahu punya argumen sendiri. Dia bilang, "Sebenarnya saya ingin proses hukum berjalan tuntas. Tapi kondisi keamanan dan politik kita, juga kepentingan nasional, memaksa saya untuk mengambil langkah ini."
"Persidangan yang berlarut-larut ini cuma memecah belah kita dari dalam. Memicu perpecahan yang dalam dan memperlebar retakan di masyarakat," dalihnya mencoba melegitimasi permintaannya.
Di sisi lain, bagi para demonstran di jalanan, permintaan itu dianggap sebagai tamparan bagi sistem peradilan dan demokrasi Israel. Mereka khawatir, jika permintaan itu dikabulkan, itu akan menjadi preseden yang sangat buruk.
Artikel Terkait
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0
Mentan Ajak Wisudawan ITS Jadi Motor Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Global