Di sisi lain, langkah ini tak lepas dari janji Presiden AS Donald Trump untuk mendukung Suriah. Ia sebelumnya bertemu dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa pada 10 November. Trump berkomitmen melakukan apa saja agar Suriah berhasil.
Namun begitu, latar belakang Sharaa cukup kompleks. Dia adalah mantan komandan al Qaeda yang pernah disanksi Washington sebagai teroris asing. Beberapa hari sebelum pertemuan dengan Trump, pemerintah Suriah mengklaim telah melancarkan operasi pre-emptive nasional yang menyasar sel-sel ISIS.
Salah satu tujuan utama kunjungan Sharaa ke Washington adalah mendesak pencabutan sanksi AS terhadap negaranya. Dan sepertinya ada sedikit titik terang. Kementerian Keuangan AS mengumumkan perpanjangan 180 hari penangguhan sanksi Caesar.
Tapi jangan terlalu berharap. Soalnya, hanya Kongres AS yang punya wewenang penuh untuk mencabut sanksi itu sepenuhnya. Jadi, meski ada kemajuan, jalan masih panjang.
Artikel Terkait
Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia
Pemulihan Pascabanjir Sumut Butuh Rp69,47 Triliun, Empat Kali Lipat Kerugian