“Masih bisa ditahan.” Kalimat itu rasanya begitu akrab, bukan? Banyak perempuan, mungkin termasuk kita, sering mengucapkannya saat tubuh mulai terasa tak enak. Rasa sakit seolah jadi bagian biasa dari keseharian, sesuatu yang cuma perlu dihadapi, bukan ditangani. Kebiasaan ini sudah begitu mengakar, sampai-sampai kita jarang mempertanyakannya lagi.
Sejak kecil, nilai-nilai tertentu sudah ditanamkan. Perempuan diajari untuk kuat. Menangis dianggap berlebihan, mengeluh dinilai merepotkan. Di banyak keluarga, pujian justru datang ketika seorang perempuan tetap bisa menjalankan semua perannya meski sedang tidak enak badan. Tanpa sadar, semua ini membentuk sebuah kebiasaan: menahan rasa sakit dianggap sebagai bukti ketangguhan.
Budaya ini punya kaitan erat dengan peran ganda yang diemban. Di rumah, perempuan sering jadi tulang punggung urusan kesehatan keluarga mengurus anak, suami, hingga orang tua. Di tempat kerja atau ruang publik, tuntutan untuk tetap produktif dan profesional tak kalah besar. Di tengah kesibukan ganda seperti ini, kebutuhan tubuh sendiri kerap terlempar ke urutan paling akhir. Rasa sakit dianggap gangguan kecil yang bisa diabaikan dulu, asalkan semua tanggung jawab tetap beres.
Namun begitu, tubuh punya caranya sendiri untuk bicara. Nyeri yang datang berulang, kelelahan yang tak kunjung hilang, susah tidur, atau emosi yang gampang meledak itu semua seringkali bukan cuma tanda kelelahan biasa. Itu adalah sinyal. Sayangnya, banyak dari kita justru terlatih untuk mematikan sinyal itu, bukannya mendengarkannya. Ketika rasa tak nyaman itu menetap, yang terjadi malah normalisasi. “Ah, biasa lah,” begitu pikir kita.
Dampaknya? Nggak main-main. Banyak perempuan baru mencari pertolongan saat kondisinya sudah cukup parah dan mengganggu aktivitas, bahkan ketika masalah kesehatannya sudah berkembang jadi lebih serius. Keterlambatan ini seringkali bukan karena nggak tahu, tapi karena kebiasaan lama: mengabaikan tubuh sendiri. Alhasil, budaya ‘tahan banting’ ini justru berkontribusi pada rendahnya kepedulian perempuan terhadap kesehatan dirinya sendiri.
Artikel Terkait
Bahasa Bayi di Media Sosial: Manja atau Kode Kasih Sayang Generasi Muda?
Apivita Luncurkan Beevine Elixir, Formula Lebah untuk Reboot Kolagen Kulit
Konselor Laktasi: Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif di Tengah Tantangan
Haid Terlambat? Jangan Langsung Panik, Bisa Jadi Ini Penyebabnya