Menariknya, sikap menahan sakit ini sering dibingkai sebagai pilihan pribadi. Padahal, sejatinya ia adalah konstruksi sosial. Perempuan nggak tiba-tiba memilih untuk mengabaikan tubuhnya; ia belajar dari lingkungan yang lebih menghargai ketahanan fisik ketimbang kepekaan terhadap diri sendiri. Imbasnya, merawat diri kadang malah dibayang-bayangi rasa bersalah seolah memperhatikan kesehatan sendiri berarti mengorbankan perhatian untuk orang lain.
Padahal, mendengarkan tubuh sama sekali bukan tanda kelemahan.
Mengakui bahwa kita lelah, bahwa kita kesakitan, atau bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, justru butuh keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan keberanian untuk menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan dasar, bukan kemewahan yang hanya boleh dinikmati kalau sudah ‘cukup sakit’.
Maka, sudah waktunya budaya ini kita pertanyakan. Tujuannya bukan untuk melemahkan, tapi justru untuk melindungi. Perempuan berhak untuk merasa sehat. Berhak untuk istirahat. Dan berhak merawat tubuhnya tanpa perlu membuktikan apa-apa pada siapapun. Karena kuat bukan cuma soal bertahan sampai ujung, tapi juga tentang tahu kapan harus berhenti, menarik napas, dan benar-benar mendengarkan diri sendiri.
Artikel Terkait
Rachel Amanda Ungkap Balsem Jadi Penyelamat Wajib di Tasnya
Doa Hari ke-13 Ramadhan: Mohon Kesucian, Kesabaran, dan Pergaulan dengan Orang Saleh
Ibu Calon Mantu Pingsan Usai Tuding Tamu Undangan Sebagai Perusak Keluarga di Sinetron RCTI
Klub Harvard Indonesia Pecat Andhika Sudarman Terkait Tuduhan Pelecehan Seksual