Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, tampaknya benar-benar naik pitam. Pemicunya? Serangan drone yang diduga berasal dari Iran itu menyasar kedutaan besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Dalam sebuah percakapan telepon, dia memberi isyarat bahwa pembalasan sudah di depan mata.
Percakapan itu terjadi dengan reporter NewsNation, Kellie Meyer. Tak lama setelahnya, Meyer langsung membagikan inti pembicaraan itu di akun media sosial X-nya.
"Dalam reaksi pertamanya atas serangan terhadap Kedutaan AS di Riyadh, Presiden Trump mengatakan kepada saya, 'Anda akan segera mengetahuinya,' apa pembalasannya," tulis Meyer.
Unggahan itu kemudian dikutip oleh kantor berita AFP, Selasa (3/3/2026).
Sebelum pernyataan Trump beredar, kabar tentang serangan itu sendiri sudah lebih dulu diumumkan oleh pihak Saudi. Menurut Kementerian Pertahanan mereka, ada dua drone yang menjadikan kompleks kedubes AS sebagai target.
Akibatnya, terjadi kebakaran di lokasi. Meski begitu, otoritas Saudi menyebut kerusakan yang ditimbulkan tergolong ringan. Hanya kerusakan material, begitu kira-kira penjelasan resminya.
Seperti dilaporkan Aljazeera di hari yang sama, seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi memberikan klarifikasi.
"Kedutaan Besar AS di Riyadh menjadi sasaran serangan oleh dua drone menurut perkiraan awal, yang mengakibatkan kebakaran terbatas dan kerusakan material ringan pada bangunan," kata juru bicara itu.
Jadi, situasinya begini: Saudi menyebut kerusakannya tak parah, tapi respons dari Gedung Putih justru mengisyaratkan langkah yang keras. Trump, seperti biasa, tidak banyak bertele-tele. Ancaman pembalasan itu menggantung, dan dunia kini menunggu apa yang akan "segera" terjadi berikutnya.
Artikel Terkait
Penembakan di Kyiv Tewaskan Lima Orang, Empat Sandera Berhasil Diselamatkan
Tiga ABK Indonesia Korban Serangan Rudal di Laut Arab Akhirnya Dipulangkan
Bareskrim Ungkap Modus Baru Narkoba Disamarkan dalam Cartridge Vape
Sutradara Nayato Fio Nuala Meninggal Dunia di Usia 58 Tahun