Pernah dengar kalimat ini? "Dengarlah apa yang dikatakannya, jangan lihat siapa yang mengatakan." Rasanya sudah sangat akrab. Kita temukan di mimbar, di ruang kelas, atau bertebaran begitu saja di linimasa media sosial.
Kedengarannya bijak, kan? Netral dan terkesan dewasa. Seringkali, kalimat itu dipakai untuk membungkam kritik terhadap seorang penceramah atau tokoh publik. Ucapannya mungkin bagus, tapi perilakunya? Nah, itu persoalan lain. Tapi coba kita renungkan sejenak. Benarkah nasihat ini sesederhana dan seaman kelihatannya?
Pertama-tama, soal legitimasi. Banyak orang mengutipnya seolah-olah ia datang dari hadis Nabi atau ucapan Ali bin Abi Thalib. Tapi coba tanya sumber pastinya. Seringkali, jawabannya mengambang. Tidak jelas sanadnya, tidak jelas konteksnya. Kalimat yang tampak religius dan filosofis ini justru kerap berdiri tanpa pondasi otoritatif yang kuat. Terdengar bijak, tapi sayangnya, kosong.
Yang lebih serius lagi adalah implikasi logisnya. Bayangkan jika kita benar-benar hanya mendengar pesan dan mengabaikan si pembicara. Maka standar moral dan akuntabilitas bisa runtuh berantakan.
Dengan logika itu, seorang penipu bebas berkhotbah tentang kejujuran. Seorang pelaku kekerasan bisa saja berceramah panjang lebar soal kasih sayang. Dan seorang koruptor? Silakan berpidato gemilang tentang integritas. Selama kata-katanya indah, publik diminta memejamkan mata terhadap tindakannya. Ini berbahaya.
Tanpa disadari, nasihat semacam ini memberi karpet merah bagi kemunafikan. Ia jadi tameng nyaman bagi mereka yang jago merangkai kata, tapi gagal menjalani hidup sesuai ucapannya. Di ekosistem media sosial sekarang, logika ini makin subur. Pencitraan adalah rajanya. Siapa pun yang fasih bicara bisa tampil sebagai panutan, meski rekam jejaknya penuh kontradiksi.
Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, persoalan ini justru ditegaskan dengan keras. Al-Quran secara gamblang mengecam ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan.
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Ini bukan sekadar nasihat biasa. Ini teguran langsung, dengan bahasa yang tegas dan tanpa ambiguitas. Ayat itu menunjukkan dengan jelas bahwa integritas personal bukanlah aksesori tambahan. Ia adalah inti dari pesan itu sendiri. Dalam konteks ini, siapa yang berbicara menjadi relevan bahkan krusial.
Bukan untuk menolak kebenaran sebuah pesan, tapi untuk menilai kelayakan moral si penyampai. Sebab, pesan yang benar di tangan orang yang salah bisa berubah fungsi: dari pencerahan menjadi alat manipulasi belaka.
Tentu, ini bukan berarti kita harus menutup telinga terhadap kebenaran hanya karena disampaikan oleh orang yang bermasalah. Hidup ini tidak hitam-putih begitu. Tapi membedakan antara "kebenaran pesan" dan "otoritas moral pembicara" itu wajib. Kita bisa saja mengambil ilmunya, tapi tetap berhak bahkan berkewajiban mengkritik kemunafikan si pembicara.
Menormalisasi ketidakkonsistenan dengan dalih "yang penting pesannya bagus" adalah bentuk kemalasan berpikir. Titik.
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat butuh lebih dari sekadar kata-kata indah. Mereka butuh keteladanan. Ucapan dan perbuatan harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Kalau tidak, yang kita bangun adalah budaya yang memuja retorika sambil memaafkan kebohongan. Dan itu, dalam ukuran moral apa pun, adalah sebuah kekalahan yang memilukan.
Artikel Terkait
Bandara Changi Catat Rekor Penumpang Meski Penerbangan Timur Tengah Anjlok
VIVA Apotek Akuisisi Penuh Farmaku, Perkuat Jaringan Ritel Farmasi
Empat Raksasa K-Pop Rencanakan Festival Global untuk Saingi Coachella
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang