Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia

- Jumat, 16 Januari 2026 | 02:00 WIB
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia

Stigma dan pengucilan masih jadi beban berat yang harus dipikul para penderita kusta. Gejala fisik yang tampak berbeda, ditambah anggapan keliru bahwa penyakit ini gampang menular, membuat mereka sering dijauhi.

Nah, dalam sebuah diskusi bertajuk “Ending Leprosy Without Stigma” yang digelar Kementerian Kesehatan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara. Menurutnya, stigma itu terus hidup lantaran informasi yang benar tak pernah sampai ke masyarakat secara jelas.

"Tantangannya paling besar, nomor satu leprosy ini jadi stigma," ujar Budi dalam talkshow di Kantor Kemenkes, Kamis (15/1).

"Kenapa stigma? Karena informasinya tidak pernah jelas sampai ke masyarakat."

Budi menegaskan, sebenarnya tak ada alasan untuk takut berlebihan pada kusta. Untuk meluruskan pemahaman, ia memaparkan beberapa karakteristik kunci penyakit ini.

"Bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sebenarnya bukan kutukan. Ini penyakit yang memang disebabkan oleh bakteri," jelasnya.

"Nomor dua, penyakit ini memang menular, tetapi penularannya lama. Dan yang ketiga, penyakit ini sudah ada obatnya, pasti sembuh. Kalau sudah diberi obat, tidak sampai seminggu sudah tidak menular."

"Yang keempat, fatalitasnya hampir nol, sangat rendah."

"Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk takut jika terkena penyakit ini," tambah Budi meyakinkan.

Di sisi lain, Kemenkes sendiri punya tekad kuat untuk mengakhiri penyakit kusta di Indonesia. Targetnya, eliminasi bisa tercapai pada awal dekade 2030-an. "Jadi bagi kami targetnya itu, kita mau eliminasi ini. Kalau tidak bisa tahun 2030, ya 2032. Kalau tidak bisa, 2035," tutur Budi dengan nada realistis.

Upaya itu tak dilakukan sendirian. Kemenkes menggandeng Sasakawa Foundation pimpinan Yohei Sasakawa. Kolaborasi ini diintensifkan hingga Maret mendatang, menyasar sejumlah wilayah seperti Bekasi, Tangerang, Brebes, hingga Jayapura.

Budi menyebut, bantuan dari yayasan tersebut sangat krusial. "Sasakawa-san membantu secara langsung dan juga lewat WHO untuk memastikan obat-obatan tersedia karena ini sangat penting dan efektif," katanya.

"Kedua, kita juga dibantu oleh Sasakawa-san secara pribadi, karena itu sebabnya beliau mau datang dan membantu pendanaan untuk memberikan tambahan anggaran."

Komitmen Yohei Sasakawa sendiri terlihat nyata. Ia berencana datang ke Indonesia hingga enam kali dalam setahun. Tujuannya jelas: mendampingi Indonesia menghapus stigma sekaligus menekan angka kasus.

"Menteri Kesehatan telah menunjukkan ketentuan dan komitmen, tetapi kami juga ingin mendampingi Indonesia agar tidak ada lagi stigma atau diskriminasi yang merupakan isu hak asasi manusia terkait penyakit ini," kata Sasakawa.

"Jadi kami ingin melakukan yang terbaik agar dapat bekerja sama dan menurunkan jumlah kasus penyakit ini sebanyak mungkin."

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar