"Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk takut jika terkena penyakit ini," tambah Budi meyakinkan.
Di sisi lain, Kemenkes sendiri punya tekad kuat untuk mengakhiri penyakit kusta di Indonesia. Targetnya, eliminasi bisa tercapai pada awal dekade 2030-an. "Jadi bagi kami targetnya itu, kita mau eliminasi ini. Kalau tidak bisa tahun 2030, ya 2032. Kalau tidak bisa, 2035," tutur Budi dengan nada realistis.
Upaya itu tak dilakukan sendirian. Kemenkes menggandeng Sasakawa Foundation pimpinan Yohei Sasakawa. Kolaborasi ini diintensifkan hingga Maret mendatang, menyasar sejumlah wilayah seperti Bekasi, Tangerang, Brebes, hingga Jayapura.
Budi menyebut, bantuan dari yayasan tersebut sangat krusial. "Sasakawa-san membantu secara langsung dan juga lewat WHO untuk memastikan obat-obatan tersedia karena ini sangat penting dan efektif," katanya.
"Kedua, kita juga dibantu oleh Sasakawa-san secara pribadi, karena itu sebabnya beliau mau datang dan membantu pendanaan untuk memberikan tambahan anggaran."
Komitmen Yohei Sasakawa sendiri terlihat nyata. Ia berencana datang ke Indonesia hingga enam kali dalam setahun. Tujuannya jelas: mendampingi Indonesia menghapus stigma sekaligus menekan angka kasus.
"Menteri Kesehatan telah menunjukkan ketentuan dan komitmen, tetapi kami juga ingin mendampingi Indonesia agar tidak ada lagi stigma atau diskriminasi yang merupakan isu hak asasi manusia terkait penyakit ini," kata Sasakawa.
"Jadi kami ingin melakukan yang terbaik agar dapat bekerja sama dan menurunkan jumlah kasus penyakit ini sebanyak mungkin."
Artikel Terkait
Anjir Jadi Bumbu Wajib: Ketika Makian Kehilangan Taring di Mulut Kaum Muda
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Pemulihan Pascabanjir Sumut Butuh Rp69,47 Triliun, Empat Kali Lipat Kerugian
Banjir Rendam Rel, Delapan Kereta Jakarta-Semarang Terhambat