Isu tentang keterlibatan Arab Saudi dalam serangan AS ke Iran terus bergulir. Intinya, ada desas-desus kuat bahwa Riyadh diam-diam mendorong Presiden Trump untuk mengambil tindakan militer. Lobi itu dikatakan berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum serangan terjadi.
Nah, laporan rinci soal ini pertama kali dimuat oleh The Washington Post. Media ternama AS itu mengklaim punya informasi dari empat sumber berbeda yang mengetahui langsung masalah tersebut.
Namun begitu, pihak Saudi langsung membantah. Melalui akun media sosial X, juru bicara Kedubes Saudi di Washington, Fahad Nazer, menyampaikan sanggahan resmi.
"Kerajaan Arab Saudi telah konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran,"
Begitu pernyataan Nazer, seperti dikutip Al Arabiya awal Maret lalu.
"Tidak pernah dalam seluruh komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami melobi Presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda,"
Penegasan itu cukup keras dan jelas. Di sisi lain, laporan WaPo sendiri memang belum dikonfirmasi secara independen. Situasinya jadi seru: di satu pihak ada media besar dengan sumber-sumber anonim, di pihak lain ada bantahan resmi yang tegas dari pemerintah Saudi.
Nuansa naratifnya jadi seperti ini: rumor bergulir, media besar melaporkan, lalu muncul bantahan langsung dari pusat diplomasi Saudi. Semua terjadi dalam tempo yang cukup cepat, meninggalkan publik dengan dua versi cerita yang bertolak belakang. Siapa yang benar? Itu masih jadi pertanyaan besar.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik