Di sisi lain, kerusakan infrastruktur benar-benar masif. Listrik dan telekomunikasi sempat lumpuh total di 14 kecamatan. Meski internet satelit sudah dipasang, jaringannya masih terbatas. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, 779 rumah hancur diterjang bencana.
Bantuan dari provinsi dan pusat mulai masuk lewat jalur udara, terutama untuk menjangkau desa-desa terisolasi. Beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya sudah didistribusikan. Tapi jumlahnya masih jauh dari cukup. Krisis sembako terjadi di mana-mana, sementara air bersih menjadi barang langka.
Layanan kesehatan pun nyaris kolaps. Dari puluhan ribu pengungsi, baru 402 orang yang berhasil dijangkau tim medis. Padahal di antara mereka ada 1.230 balita, ratusan ibu hamil, dan ibu menyusui yang membutuhkan perhatian khusus.
Stok obat-obatan di ambang habis. Antibiotik dan pereda nyeri hanya tersisa 300 unit. Perlengkapan cuci darah (BHP) hanya cukup sampai 3 Desember mendatang.
“Kami butuh pasokan obat-obatan standar sesegera mungkin,”
Desakan Haili terdengar pilu. Situasinya memang kritis. Waktu terus berjalan, sementara bantuan yang datang masih seperti setetes air di lautan kebutuhan.
Artikel Terkait
Parkir Darurat Banjir Dihargai Rp1,5 Juta, Mobil Tetap Terendam
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak