Di Wisma Perdamaian, Semarang, suasana Rabu (4/3) itu tampak khidmat. Acara pelantikan dan penyerahan SK untuk para kepala sekolah serta jabatan fungsional berlangsung dengan penuh hikmat. Di sinilah Luthfi menekankan satu hal yang ia anggap fundamental: peran sentral pendidikan dalam membangun SDM.
“Pendidikan berperan meningkatkan sumber daya manusia yang punya daya saing,” tegas Luthfi dalam keterangan tertulisnya. Baginya, sektor ini bukan sekadar urusan kelas, tapi fondasi untuk kemajuan.
Pernyataan itu tak lepas dari konteks yang lebih luas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri terus berupaya menggerus angka kemiskinan. Per September 2025 lalu, angkanya berhasil ditekan jadi 9,39% atau sekitar 3,34 juta jiwa. Memang masih berat, tapi setidaknya ada penurunan dari posisi sebelumnya di 9,58%.
Nah, dalam upaya memperkuat fondasi tadi, dilakukanlah penataan pejabat di 645 satuan pendidikan negeri, meliputi SMA, SMK, dan SLB. Prosesnya melalui rotasi dan promosi. Secara simbolis, SK diserahkan kepada 164 kepala sekolah yang hadir langsung. Rinciannya, 43 orang mengalami rotasi dan 121 orang dapat promosi. Yang tak bisa datang, mengikuti jalur daring.
Tak cuma itu. Acara ini juga melantik 17 Pejabat Fungsional PNS dan yang jumlahnya cukup signifikan 3.018 PPPK. Dari ribuan PPPK tersebut, 119 orang hadir luring, sementara sisanya, hampir 2.900 orang, menyimak dari layar.
Dalam arahannya, Luthfi punya pesan khusus untuk semua yang dilantik. Ia meminta tugas dijalankan dengan integritas dan tanggung jawab penuh.
“Harus kita laksanakan sesuai dengan profesionalisme, penuh perhatian, dan tanggung jawab,” tegasnya lagi.
Ia juga mengingatkan agar semua pihak, terutama kepala sekolah dan guru, tetap rendah hati dan menjauhi sikap hedon. Sebab, di mata siswa, merekalah panutan. Setiap sikap dan perilaku harus mencerminkan pribadi yang berakhlak dan berbudi luhur. Itu harga mati.
Di sisi lain, bagi para penerima SK, momen ini jelas sangat berarti. Seperti yang dirasakan Berti Sagendra, yang kini resmi menjadi Kepala SMKN 6 Kota Semarang.
“Karena saya di SMK, maka tantangannya menyiapkan SDM yang siap untuk berwirausaha, bekerja, dan melanjutkan. Setelah murid itu lulus, SMK harus memikirkan bagaimana harus menyalurkan. Jadi banyak sekali yang dipikirkan ini kalau di sekolah,” ujar Berti.
Fokusnya ke depan jelas: memperkuat jembatan antara sekolah dengan dunia industri. Link and match itu kunci agar lulusan punya peluang kerja yang nyata.
Perasaan senasib terpancar dari Agus Nugroho, guru di SMKN 1 Boyolali. Penantian belasan tahunnya akhirnya berbuah manis di formasi 2025 ini. Kini ia resmi sebagai PPPK Guru agama.
“Senang sekali, sudah lama sebelumnya kami sebagai guru honorer, sekarang sudah resmi menjadi PPPK dan menerima SK pelantikan jabatan fungsional sebagai guru agama. Jadi, sangat senang sekali,” ujar Agus, tak menyembunyikan rasa harunya.
Bagi Agus, status barunya ini bukan cuma soal kepastian kerja. Lebih dari itu, ini adalah tanggung jawab moral dan bentuk pengabdian yang harus dijalani dengan tulus.
“Kita harus tetap berusaha memberikan apa yang kita bisa dengan tulus ikhlas. Bagi teman-teman terus semangat dan mengabdi dengan tulus ikhlas. Kerja keras itu tidak menipu hasil,” ucapnya menutup pembicaraan.
Hari itu, di Semarang, ada serah-terima dokumen, ada janji yang diucapkan. Tapi yang lebih penting, ada harapan baru untuk pendidikan Jawa Tengah yang sedikit lebih baik.
Artikel Terkait
Trump Ancam Kuba Bisa Jadi Sasaran Militer, Diaz-Canel Serukan Kewaspadaan
Kuasa Hukum Bobby: Silakan Laporkan, Kami Tunggu
Polisi Bongkar Lab Vape Berisi Narkoba Etomidate di Tangerang, Sita Barang Senilai Rp 762 Miliar
DPR dan Pemerintah Sepakat Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga