Kerangka Alvaro Ditemukan di Bawah Jembatan Tenjo, Tersangka Ternyata Kenal Medan

- Rabu, 26 November 2025 | 04:06 WIB
Kerangka Alvaro Ditemukan di Bawah Jembatan Tenjo, Tersangka Ternyata Kenal Medan
Laporan Temuan Kerangka Alvaro

Hanya tersisa rangka tulang belulang. Itulah kondisi mengerikan yang tersisa dari Alvaro Kiano Nugroho, bocah enam tahun yang akhirnya ditemukan di bawah Jembatan Cilalay, Tenjo, Bogor. Sebuah akhir yang tragis.

Lokasi penemuannya sendiri terpencil dan sepi. Jalan di sekitar jembatan itu jarang dilalui kendaraan, kecuali sesekali truk yang melintas. Suasana muram langsung terasa. Garis polisi sudah terpasang, membatasi area semak-semak dan aliran Kali Cirewed yang tenang. Sampah berserakan di mana-mana, didominasi batok kelapa dan bungkusan plastik yang menambah kesan kumuh. Yang cukup ironis, jarak dari TKP ke Polsek dan Kantor Kecamatan Tenjo ternyata tak sampai lima menit naik motor. Hanya sekitar 1,5 kilometer.

Saksi Mata Mengungkap Kronologi Penemuan

A. Sunaryo (67), seorang warga yang warungnya tak jauh dari jembatan, turut terlibat langsung dalam pencarian. Dia adalah salah satu saksi kunci.

Menurut penuturannya, semuanya berawal Jumat sore, 21 November. Sejumlah polisi mendatangi rumahnya sambil membawa seorang pria dengan tangan terikat, Alex Iskandar (49). Mereka memberi tahu Sunaryo bahwa mereka sedang mencari jenazah Alvaro yang diduga dibuang di sekitar jembatan. Namun, karena hari sudah gelap, pencarian baru dimulai keesokan harinya, Sabtu.

Sunaryo punya firasat. Saat itu dia bilang ke polisi, arus kali ini tidak deras, jadi kecil kemungkinan jenazahnya hanyut. Dia yakin mayat itu pasti tersangkut di tumpukan sampah.

"Kata saya ini bersihin sampah ini enggak bakalan kelar satu hari, tapi perkiraan saya, saya bilang kali ini kecil mungkin bisa aja nyangkut gak tau agak hilir. Perasan saya sih masih di kali kecil ini (tersangkut),"

ujar Sunaryo saat ditemui di lokasi pada Selasa, 25 November.

Pencarian pun dimulai. Sampah dibongkar, anjing pelacak dikerahkan. Hasil hari pertama? Nihil. Barulah pada Minggu, 23 November, di balik tumpukan sampah paling bawah, mereka menemukan yang mereka cari. Jasad Alvaro sudah berubah menjadi tulang belulang yang berserakan. Plastik hitam dan kain pembungkusnya sudah koyak, mungkin diterkam hewan buas. Memang, ular piton besar dan biawak sering terlihat berkeliaran di sana.

Kondisi Kerangka yang Memilukan

Yang bikin pilu, kerangka itu tidak lengkap. Sunaryo hanya melihat tulang-tulang berukuran kecil dan tengkorak kepala yang masih agak utuh. Semua bukti itu kemudian diamankan polisi untuk dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

"Ada bagian tulang kering, kebanyakan tulang iga, terus di situ mungkin ya ada juga ya tulang kecil-kecil, saya juga kurang paham seperti kayak tulang-tulang ayam gitu ya, masih kecil ya. Nah terus itu sama tempurung juga, terus kelopak mata semuanya, tengkorak mata juga ya itu komplit, tengkorak belakang ada,"

jelasnya lagi.

Sunaryo mengaku terkejut. Dia sama sekali tidak pernah mencium bau busuk, padahal tiap hari ia melewati lokasi itu. Seolah-olah tak ada yang istimewa.

Mengapa Tenjo Dipilih?

Lalu, apa alasan Alex membuang jasad korban ke Tenjo? Ternyata, dia mengenal betul kawasan itu. Dia tahu titik-titik mana yang sepi dan cocok untuk membuang 'barang' haram.

Hal ini diperkuat oleh Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ardian Satrio Utomo. Dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (24/11), dia menjelaskan bahwa Alex punya kerabat di Tenjo.

“Ada salah satu kerabat tinggal di sana. Jadi dia sudah bolak-balik, memang pengakuan dari tersangka ini sudah bolak-balik ke Tenjo. Dan dia tahu lokasi mana yang sepi untuk membuang di sana,”

tuturnya.

Akhirnya, tersangka memilih sebuah spot di bawah jembatan yang kebetulan juga difungsikan warga sebagai tempat pembuangan sampah. Di sanalah, di antara tumpukan sampah, plastik hitam berisi jasad Alvaro dibuang, mengakhiri petualangan pencarian yang memilukan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar