TNI Perbaiki Jembatan Penghubung Desa yang Ambruk Kembali Diterjang Banjir di Tapanuli Tengah

- Minggu, 22 Februari 2026 | 22:15 WIB
TNI Perbaiki Jembatan Penghubung Desa yang Ambruk Kembali Diterjang Banjir di Tapanuli Tengah

Banjir bandang yang melanda Tapanuli Tengah akhir tahun lalu benar-benar menyisakan duka. Bukan cuma kerusakan material, tapi juga keterisolasian. Nah, situasi itu kembali terulang. Jembatan penghubung antar desa yang baru dibangun, ambruk lagi diterjang banjir susulan pada Senin, 16 Februari 2026 lalu.

Akibatnya, warga di Desa Sigiring-giring kembali terpencil. Untuk sekadar ke Kelurahan Hutanabolon atau daerah lain di Kecamatan Tukka, mereka harus nekat menyeberangi Sungai Tukka. Bisa-bisa sih saat air surut, tapi jelas sangat berbahaya kalau hujan turun dan debit air meninggi.

Melihat kondisi itu, prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 908/Gaja Dompak (Yonif TP 908/GD) turun tangan. Mereka bergerak cepat untuk memperbaiki jembatan yang putus itu.

"Kami saat ini berupaya untuk mengumpulkan batu dan merakit jembatan Aramco,"

kata Letda Riswan Sinaga, Perwira TNI dari satuan tersebut, Minggu (22/2/2026).

Menurut Riswan, upaya perbaikan ini fokus pada jembatan antara Kelurahan Hutanabolon dan Desa Sigiring-giring. Jembatan itu sebenarnya sudah pernah dibangun dan sempat bisa dilalui kendaraan. Sayangnya, banjir bandang susulan menghancurkannya kembali.

"Jembatan yang kami bangun kembali ini untuk menghubungkan antardesa. Tujuannya jelas, agar masyarakat di Desa Sigiring-giring tidak lagi terisolasi,"

tambahnya.

Di lokasi, terlihat sejumlah prajurit dengan seragam lapangan mereka bekerja keras. Mereka mengangkat dan menyusun batu kali sebagai persiapan pembangunan. Untuk mempercepat pekerjaan, pihaknya menerjunkan sekitar 100 personel.

Jembatan ini memang bukan sekadar akses biasa. Ia menjadi satu-satunya penghubung vital bagi warga Sigiring-giring. Tanpanya, aktivitas sosial dan ekonomi warga bisa benar-benar mandek. Upaya TNI ini diharapkan bisa segera mengakhiri masa-masa sulit warga yang harus bertaruh nyawa setiap kali menyeberangi sungai.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar