Minuman Impor China dalam Program Makanan Bergizi, Warganet Soroti Ironi Anggaran

- Selasa, 30 Desember 2025 | 17:40 WIB
Minuman Impor China dalam Program Makanan Bergizi, Warganet Soroti Ironi Anggaran

Gambar-gambar itu beredar cepat di linimasa X. Tampak jelas kemasan putih dengan tulisan "Minuman Rasa Susu O Pao". Di bawahnya, tertera nama produsen: Shandong Want Want Foods Ltd. dari Jinan City, China. Ini adalah salah satu menu yang dibagikan dalam program Makanan Bergizi Gratis atau MBG saat libur sekolah.

Namun, yang jadi sorotan justru bukan waktunya. Tapi asal-usul dan kandungannya. Produk itu jelas-jelas impor. Dan seperti tertulis di bungkusnya, ini bukan susu, melainkan minuman rasa susu. Pertanyaan kritis langsung bermunculan. Bergizi dari mana? Namanya saja MBG Makanan Bergizi Gratis tapi nyatanya impor, kandungan gizinya dipertanyakan, dan tentu saja tidak gratis karena dibiayai APBN. Uang rakyat, singkatnya.

Reaksi warganet pun beragam, banyak yang sinis. Sebagian merasa prihatin.

“MBG makin ngaco. Habisin anggaran dan memberi anak2 dg makanan tinggi gula,”

tulis akun @aik_arif, menyoroti potensi kandungan gula yang tinggi dalam produk semacam itu.

Komentar lain lebih pedas, menyinggung soal orientasi program. Ada yang menilai MBG mulai kehilangan arah.

“Keknya tiap hari kudu diupload menu embege biar tau program bukan jadi makan bergizi tapi cemilan. Lama lama ini embege bukan gizi oriented tapi cuan oriented untuk yg punya dapur,”

kata akun @mkhairulafif. Kalimatnya terpotong dengan emoji tertawa, tapi sindirannya terdengar jelas: ada kepentingan lain yang dianggap lebih utama ketimbang gizi anak-anak.

Postingan awal yang memantik perbincangan berasal dari akun @txtanrrfh. Ungkapannya sederhana tapi menyiratkan kekecewaan.

“Sedih dok susunya ini, DARI CHINA PULA ALLAHUAKBAR”

Dia menyertakan foto-foto kemasan produk yang tak terbantahkan. Dari sanai gelombang kritik itu mulai mengalir. Intinya satu: program yang seharusnya menyehatkan justru dianggap menyajikan produk minim gizi dari luar negeri. Sebuah ironi yang sulit ditelan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar