Bencana datang tanpa permisi. Selasa (25/11) lalu, Tapanuli Tengah di Sumatera Utara diguncang banjir bandang dan tanah longsor yang hebat. Ribuan keluarga dari tujuh kecamatan berbeda tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit: rumah mereka terendam, harta benda hilang, dan rasa aman yang terkikis.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, mengonfirmasi besarnya dampak bencana ini.
"Ada 1.902 KK, pengungsian masih proses asesmen," katanya, menegaskan bahwa proses pendataan korban masih terus berjalan.
Dari data sementara yang berhasil dihimpun, Kolang menjadi wilayah terparah dengan 1.261 kepala keluarga yang terdampak. Kemudian disusul oleh Sarudik dengan 338 KK dan Pandan sebanyak 150 KK. Lumut mencatat 78 KK, Barus 65 KK, sementara Tukka dan Sitahuis masing-masing terdampak sebanyak 10 KK. Angka-angka ini masih mungkin berubah seiring dengan proses pendataan yang lebih mendetail.
Di sisi lain, pemerintah kabupaten masih berjibaku menghitung kerugian materi dan jumlah korban luka. Yang jelas, upaya evakuasi telah dilakukan untuk memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah