Malam itu di Cidahu, Kuningan, suasana gelap di sepanjang Jalan Raya Ciawigebang–Cidahu tiba-tiba berubah mencekam. Seorang pemuda berusia 20 tahun, berinisial MM, nekat menghabisi rasa persahabatannya dengan sebilah celurit. Korban yang tak lain adalah temannya sendiri, harus dilarikan ke RS Mitra Husada Ciawigebang dengan luka sayatan dalam di punggung. Operasi pun tak terhindarkan.
Menurut Iptu Abdul Azis, Kasat Reskrim Polres Kuningan, penangkapan pelaku berhasil dilakukan hanya beberapa jam setelah kejadian. "Pelaku kami tangkap tanpa perlawanan dengan sejumlah barang bukti yang masih dikuasainya," ujarnya.
Ceritanya berawal dari sebuah panggilan telepon yang tampaknya biasa. MM menghubungi korbannya, meminta tolong karena motornya kehabisan bensin di jalan. Tanpa curiga, sang korban yang merasa sebagai teman baik pun segera meluncur ke lokasi yang disebutkan.
Tapi yang terjadi sama sekali di luar dugaan.
"Namun saat korban tiba, pelaku langsung menyerang menggunakan celurit hingga mengenai punggung kiri korban," jelas Iptu Abdul Azis.
Setelah serangan brutal itu, MM kabur meninggalkan temannya sendiri dalam kondisi berlumuran darah. Warga sekitar yang mendengar kejadian itu langsung melaporkannya ke pihak berwajib.
Lantas, apa sebenarnya yang memicu amuk tak terduga ini? Polisi mendalami motifnya, dan dugaan kuat mengarah ke persoalan asmara yang berujung runyam.
Dari pengakuan awal, MM mengaku emosi karena mendengar kabar dari pacarnya sendiri bahwa korban diduga telah melakukan pelecehan. "Pengakuan itu disampaikan pacar pelaku sehingga memicu tindakan nekat tersebut," kata Azis.
Pelaku akhirnya berhasil diamankan di sebuah rumah warga di Desa Cikeusik, Cidahu, pada Selasa dini hari sekitar pukul 04.00 WIB.
Polisi menyita sejumlah barang bukti dari tangan MM, termasuk 1 motor Honda Beat, ponsel Samsung Galaxy A04e, hoodie hitam, sandal Nikko, dan tentu saja senjata yang digunakan sebilah celurit bergagang kayu warna hitam.
Kini MM terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara atas pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Sebuah harga mahal yang harus dibayar karena tak bisa mengendalikan emosi.
Artikel Terkait
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Tutup Karier 24 Musim dengan Rekor 658 Laga di Premier League
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim
Pelaku Curanmor Bersenpi Tewas Ditembak, Polisi Ringkus Satu Komplotan di Tulang Bawang
Kelebihan Biaya Perjalanan Luar Negeri Presiden Prabowo Ditanggung Pribadi, Klaim Sekretaris Kabinet