Zara Larsson Bayar Mahal untuk Suara Lantangnya Soal Palestina

- Selasa, 25 November 2025 | 09:00 WIB
Zara Larsson Bayar Mahal untuk Suara Lantangnya Soal Palestina
Zara Larsson dan Dampak Sikap Politiknya

Zara Larsson: Dibatalkan karena Vokal Dukung Gaza

Zara Larsson, penyanyi pop Swedia yang namanya melejit setelah memenangkan Talang Sverige, harus menghadapi konsekuensi pahit bagi karirnya. Ia mengaku dibatalkan dari sejumlah konser, acara penghargaan, dan berbagai kerja sama. Semua ini, menurut pengakuannya, terjadi karena ia bersikap vokal mendukung Gaza.

Dalam dokumenter terbarunya berjudul Up Close, Larsson dengan gamblang bercerita tentang harga yang harus ia bayar. Ia kehilangan tawaran manggung, kesempatan tampil di ajang bergengsi, hingga kontrak kerja yang seharusnya mendarat di mejanya. Semua menguap begitu saja.

Soal dukungan untuk Palestina, Zara memang bukan nama baru. Sejak 2016, ia sudah aktif menyuarakan hal ini di media sosial. Lewat akun Twitter (sekarang X) dan Instagram-nya, ia tak segan menyebarkan slogan "Bebaskan Palestina" dan mengkritik keras tindakan Israel. Pernah suatu kali ia menyebut perlakuan Israel tak ubahnya "mempertahankan apartheid dan membunuh warga sipil." Keras. Jelas. Dan tentu saja, menuai reaksi.

Yang menarik, ia juga menyoroti apa yang ia lihat sebagai standar ganda. Ketika perang Rusia-Ukraina pecah di tahun 2022, ia mempertanyakan lewat unggahan di Instagram: mengapa reaksi internasional terhadap dua konflik ini bisa begitu berbeda?

Bagi Larsson, berdiam diri bukanlah sebuah pilihan. Ia bahkan mendesak sesama selebriti dan influencer untuk ikut bersuara, terutama pasca-serangan Israel di Rafah. Tekadnya bulat.

Konsistensinya diuji lagi pada 2024. Ia dengan tegas menolak tampil di Eurovision selama Israel masih diizinkan berpartisipasi. Sebuah langkah yang sekali lagi menunjukkan, bagi Zara Larsson, prinsip lebih penting daripada panggung.

Jadi, inilah kisahnya. Seorang bintang pop internasional yang memilih untuk bersuara lantang, dan konsekuensinya nyata: ia kehilangan panggung, tetapi mungkin justru mendapatkan suaranya yang sebenarnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar