Kajian Remaja Bandung Ungkap Kekosongan di Balik Gaya Hidup Kekinian

- Senin, 24 November 2025 | 21:25 WIB
Kajian Remaja Bandung Ungkap Kekosongan di Balik Gaya Hidup Kekinian

Langkah demi langkah menyambut lelah. Rasanya kita masih berada di titik yang sama, tanpa kemajuan berarti. Padahal, tanpa tujuan yang jelas, mustahil kita bisa sampai ke mana-mana. Jangan-jangan selama ini kita cuma ikut-ikutan saja? Berlari karena melihat orang lain melakukan hal serupa. Kalau ditanya alasannya, mungkin jawabannya cuma, "Ya masa aku diam saja sementara yang lain sibuk bersekolah?"

Yang bikin miris, pola seperti ini ternyata berlaku hampir di semua aktivitas anak muda zaman sekarang. Mulai dari bikin status media sosial, ngonten, self-reward ala-ala, sampai jalan-jalan tanpa tujuan jelas. Rutinitas mereka berulang setiap hari seperti rekaman yang diputar terus-menerus: bangun pagi, sekolah, pulang, main, scrolling medsos, tidur, lalu esoknya diulang lagi dari awal. Tak heran kalau akhirnya rasa hampa yang mendominasi.

Itulah yang dirasakan sebagian besar peserta kajian RAGB (Remaja Anti Gaul Bebas) pada 9 November 2025 lalu. Kajian yang dihadiri puluhan remaja muslimah di Bandung itu mengusung tema "Love Yourself: Biar Jadi Berkarakter Mulia." Banyak peserta yang mengaku jenuh dengan rutinitas harian mereka. Mereka butuh suntikan semangat baru untuk memperbaiki diri dan lebih rajin beramal salih.

Padahal, kalau kita lihat, pemerintah sudah menjalankan program PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) di berbagai sekolah. Tapi nyatanya, kondisi moral pemuda masih jauh dari harapan. Ambil contoh aspek religius. Di sekolah, religius sering kali cuma diartikan sebagai rutinitas ibadah belaka: shalat Duha dan Zuhur berjemaah, doa pagi bersama, atau sekadar bersikap sopan pada guru. Tanpa pemahaman makna yang mendalam, semua itu akhirnya cuma jadi kegiatan formalitas yang gersang.

Fakta di lapangan makin memperkuat gambaran suram ini. Sebuah skripsi tahun 2023 berjudul "Perubahan Gaya Hidup dan Perilaku Remaja di Era Digital" menyebut remaja sekarang kecanduan gadget, gampang terpengaruh budaya asing, bersikap hedonis, plus mengalami perubahan perilaku dan interaksi sosial yang cukup signifikan.

Belum lagi laporan Dinas Kesehatan Jawa Barat per 4 Juli 2025 yang cukup mencengangkan. Tercatat ada 3.906 kasus baru HIV dan 1.035 kasus baru AIDS pada periode Januari–Mei 2025 saja. Angka yang sungguh mengkhawatirkan untuk wilayah dengan mayoritas penduduk muslim.

Kalau kita telisik lebih dalam, sebenarnya PPK tidak menyentuh akar persoalan. Yang dilakukan sebatas pembiasaan, bukan penanaman makna. Ibadah dilakukan sekadar karena "memang aturannya begitu", bukan lahir dari kesadaran bahwa Allah yang memerintahkan. Berbuat baik juga cuma karena dianggap sebagai "karakter mulia", bukan karena ia bagian dari ibadah yang bernilai akhirat.

Wajar saja hasilnya tidak maksimal. Namanya juga sistem pendidikan sekular. Agama cuma ditempatkan sebagai pengetahuan tentang ibadah individu, bukan sebagai asas kehidupan. Sekularisme inilah biang kerok yang bikin karakter pemuda semakin kabur.

Self Love yang Sebenarnya: Fondasi Karakter Mulia

Selama ini, self love sering dikaitkan dengan budaya Barat yang cenderung egois dan membiarkan manusia menentukan standar kebaikan sendiri. Wajar, karena konsep itu berdiri di atas asas sekularisme. Makanya self love kerap diidentikkan dengan selfish.

Tapi self love yang dibahas dalam kajian kali ini sama sekali berbeda. Di sini, self love dimaknai sebagai upaya mencintai diri dengan cara mengenal jati diri sebenarnya. Jati diri bukan sesuatu yang kita ciptakan, melainkan kita temukan. Dan ketika tabirnya tersingkap, kita akan sadar: sejak awal Allah sudah menetapkan identitas kita sebagai hamba yang mulia karena taat dan hina karena maksiat.

QS. Al-‘Alaq ayat 1–2 mengajarkan kita untuk "membaca" dengan nama Allah. Membaca di sini bukan cuma terbatas pada tulisan, tapi juga mencakup ayat-ayat kebesaran-Nya di alam semesta. Tubuh manusia sendiri menyimpan teknologi luar biasa yang mustahil ada tanpa Sang Pencipta. Dari sini, kita diajak mengenal Allah sebagai al-Khaliq, Maha Pencipta yang Agung.

Kemudian peserta diajak merenungkan makna hidup yang sebenarnya. Untuk apa sih manusia berlari-lari di dunia ini? Allah sudah menjawabnya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Tujuan hidup manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. Apapun peran kita entah sebagai pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, atau aktivis selama semua diarahkan untuk mencari rida Allah, berarti kita berada di jalan yang benar.

Di sinilah sebenarnya akar karakter mulia itu tumbuh: seorang muslim beramal salih bukan untuk dilihat manusia, melainkan demi mengejar rida Allah semata. Dengan pemahaman ini, rutinitas harian tidak lagi terasa hampa, tapi justru menjadi bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta.

Di akhir sesi, peserta kembali diingatkan bahwa kehidupan dunia ini cuma sementara. Setiap manusia akan kembali kepada Allah dengan membawa pertanggungjawaban masing-masing (QS. Al-Mulk ayat 2). Amal saleh bernilai pahala, sedangkan maksiat bernilai dosa. Akumulasi amal itulah yang nanti menentukan perjalanan kita menuju kehidupan sejati: surga atau neraka.

Antusiasme peserta terlihat jelas. Terlontar lima pertanyaan dalam sesi tanya jawab, pertanda materi yang disampaikan benar-benar menyentuh hati dan relevan dengan pergulatan hidup mereka sehari-hari.

Tidak Bisa Tumbuh dari Kekosongan

Pada akhirnya, karakter mulia tidak mungkin lahir dari rutinitas tanpa makna. Tidak juga dari sekadar semboyan, kurikulum, atau program yang tidak menyentuh akar persoalan. Karakter mulia hanya akan lahir ketika seorang pemuda benar-benar mengenal jati dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Tanpa makna, hidup cuma berputar-putar di tempat yang sama. Tapi dengan makna, setiap langkah menjadi ibadah, dan setiap hari menjadi peluang untuk semakin mendekat kepada Allah.

Nah, pertanyaannya sekarang: hidup yang kita jalani selama ini, sudah menuju ke mana? []

Keni Rahayu, Aktivis Muslimah Bandung.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar