London masih diguyur hujan sore itu ketika kabar mengejutkan datang dari Stamford Bridge. Enzo Maresca, sang arsitek di balik gelar Piala Dunia Antarklub Chelsea, ternyata sudah tidak lagi menjadi bagian dari klub. Pemecatannya berlangsung cepat, nyaris tanpa peringatan, hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi tentang penggantinya, Liam Rosenior.
Yang membuat banyak orang menggeleng, keputusan ini datang justru di puncak kesuksesan. Maresca baru saja membawa The Blues meraih gelar juara dunia di Amerika Serikat, sekaligus mengamankan tiket Liga Champions. Prestasinya dalam 18 bulan terakhir jelas bukan hal sepele.
Namun begitu, dinamika internal rupanya berbicara lain. Menurut sejumlah saksi, hubungan Maresca dengan petinggi klub memanas belakangan ini. Perbedaan pandangan soal kebijakan transfer dan kendali teknis disebut-sebut jadi pemicu utamanya. Ketegangan itu akhirnya berujung pada keputusan ekstrem dari manajemen.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Maresca sendiri memilih untuk bersikap tenang. Melalui sebuah pernyataan di media sosial, pelatih asal Italia itu menunjukkan sikap elegannya. Ia tak sedikitpun menyebut konflik atau menyimpan dendam.
“Saya pergi dengan ketenangan batin setelah meninggalkan klub besar seperti Chelsea di tempat yang semestinya,” tulisnya.
Pesan itu ia awali dengan sebuah kutipan dari Robert Baden-Powell, pendiri gerakan Pramuka. “Tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik dari saat kamu menemukannya,” tulis Maresca. Sebuah sikap yang terang benderang: ia lebih memilih fokus pada warisan yang ditinggalkan, bukan pada polemik yang terjadi.
Warisan itu sendiri memang sulit untuk diabaikan. Mari kita ingat kembali, perjalanannya dimulai dari babak kualifikasi UEFA Conference League di musim panas 2024. Sebuah titik awal yang sederhana. Dari sana, Maresca berhasil membawa Chelsea kembali ke peta elite sepak bola Eropa.
Dalam satu setengah tahun kepemimpinannya, tiga capaian besar berhasil diraih. Tiket Liga Champions, gelar juara Conference League, dan puncaknya, mahkota Piala Dunia Antarklub 2025. Sebuah trofi prestisius yang menegaskan Chelsea sebagai tim terbaik dunia.
“Saya berterima kasih kepada seluruh penggemar Chelsea atas dukungan mereka selama 18 bulan terakhir,” lanjut Maresca dalam pernyataannya. “Dukungan yang sangat penting untuk meraih semua itu. Kemenangan-kemenangan ini akan selalu saya simpan di hati.”
Di sisi lain, kepergiannya ini menyisakan pertanyaan besar tentang budaya instan di klub-klub top. Chelsea, dengan tekanan yang luar biasa, seolah terus menuntut hasil sekaligus kontrol penuh. Kursi pelatih di Stamford Bridge pun kembali menjadi salah satu posisi terpanas di Eropa.
Kini, semua perhatian beralih ke Liam Rosenior. Tugasnya tak akan mudah. Sementara Enzo Maresca pergi dengan kepala tegak, meninggalkan rekam jejak trofi yang akan selalu tercatat dalam sejarah panjang klub biru London itu.
Artikel Terkait
Real Madrid Tegaskan Mourinho Bukan Opsi, Fokus ke Klopp dan Proyek Jangka Panjang
Janice Tjen Tembus Peringkat 36 Dunia, Rekor Tertinggi Kariernya
Mantan Manajer Persija Harianto Badjoeri Meninggal Dunia
Flick Anggap Wajar Reaksi Kesal Yamal Usai Barcelona Kembali ke Puncak Klasemen