Awalnya, Hafithar sempat ogah-ogahan pindah. Dia merasa betah dengan guru dan teman-temannya di sekolah yang sekarang. Tapi keadaan memang nggak memungkinkan untuk terus begini.
"Mamah Hafithar memberi keputusan kepada pihak sekolah bahwa nanti semester dua Hafithar akan pindah di daerah Parung ya di semester dua,"
tambahnya.
Di balik semangatnya, ada cerita yang bikin hati trenyuh. Hafithar adalah anak yatim. Ayahnya telah meninggal lima tahun silam. Dia anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Nah, begitu pindah ke Bogor nanti, biaya sekolahnya akan ditanggung oleh majikan ibunya. Semacam angin baik setelah lama berjuang.
"Memang itu keputusan orang tuanya, kami juga tidak memaksakan karena orang tuanya sudah mendapat pekerjaan gitu, dan memang sudah diurus untuk di sana mencarikan sekolah dan sebagainya oleh bosnya orang tuanya,"
jelas Dwiyanti lagi.
Jadi, meski harus berpisah dengan kawan-kawannya, setidaknya ada harapan lebih baik menanti di Bogor.
Artikel Terkait
KPK Amankan Rp6 Miliar dalam OTT Perdana 2026, Libatkan Pejabat Pajak dan Tambang
Iran Pukul Mundur Aksi Provokasi, Intel Turki Bantu Gagalkan Infiltrasi Milisi
Cangkruk: Ritme Pelan yang Menjaga Kediri Tetap Utuh
Iran Bergolak: Zionis Dituding Dalangi Gelombang Teror dan Pembakaran Tempat Ibadah