Arifah punya kekhawatiran khusus. Ketika hak-hak dasar ini tak terpenuhi, dampaknya bisa merambat ke mana-mana. Ia mengaitkannya dengan isu perundungan yang belakangan sering muncul.
"Ya, itu tadi terkait ya. Ketika seorang anak tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan, maka dia akan mencari jalan yang menurut dia benar, karena dia tidak punya tempat," katanya.
Tapi solusinya nggak sederhana. Menurut Arifah, urusan perundungan ini terlalu kompleks untuk ditangani oleh satu pihak saja.
"Tetapi untuk menanggulangi ini (perundungan), ini nggak bisa sendiri. Jadi keluarga punya peran yang sangat penting bagaimana membangun karakter anak supaya bukan cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan berbudi pekerti," ujar Arifah.
Ia menekankan perlunya kolaborasi yang solid.
"Kemudian sekolah. Kadang sekolah yang suka menjadi sasaran. Nggak, sebetulnya ini harus tiga pihak ya. Jadi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Masyarakat juga punya peran yang luar biasa, termasuk media," pungkasnya.
Pesan terakhirnya sederhana namun mendalam. Pemenuhan hak anak bukan sekadar urusan fisik, tapi juga tentang menciptakan ruang aman secara psikologis. Sebuah tugas kolektif yang menuntut kesadaran semua pihak.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP